"Menebar Jala" Membentuk Desa Wisata, Gagasan Lalu Chandra Yudistira untuk Pertumbuhan Ekonomi Desa

Advertisement

"Menebar Jala" Membentuk Desa Wisata, Gagasan Lalu Chandra Yudistira untuk Pertumbuhan Ekonomi Desa

KATAKNEWS.com
Jumat, 01 Maret 2019

DESA WISATA. Lalu Chandra Yudistira, Politisi Muda PDIP Caleg DPRD NTB Nomor Urut 4 Dapil 8 Lombok Tengah. (Foto: Istimewa) 


LOMBOK TENGAH - Pembentukan Desa Wisata perlu terus didorong di Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Caleg DPRD NTB dari PDIP Nomor Urut 4 Dapil 8, Lalu Chandra Yudistira mengatakan, selain untuk menumbuhkan banyak destinasi wisata baru yang akan menjadi pilihan wisatawan, hal ini juga akan membuka lebih banyak kesempatan ekonomi bagi masyarakat di tingkat pedesaan.

"Karena itu saya selalu mendorong pemuda desa agar menjadikan desanya menjadi desa kreatif, dan menciptakan industri kreatif berbasis pariwisata. Selain bisa hasilkan pundi-pundi rupiah juga akan  membuka lapangan pekerjaan untuk pemuda," kata Lalu Chandra Yudistira.

Menurutnya, saat ini siapa saja boleh membentuk Desa Wisata. Sebab, desa wisata bukan program pemerintah saja, melainkan bagaimana upaya bersama mendorong desa tersebut menjadi desa yg kreatif dengan melihat potensi yang ada di seputaran desa itu sendiri.

"Maka jangan heran ketika banyak desa yang berlomba-lomba membuat desanya menjadi desa wisata. Mereka bukan melihat sebuah program bantuan, tapi mereka melihat peluang yang ada di desanya," katanya.

Lalu Chandra Yudistira mengharapkan dengan semangat yang terus didorong akan semakin banyak bermunculan desa wisata.

"Karena Desa Wisata ini adalah sesuatu hal yang positif, ibarat menebar jala dulu ketika sudah disebar pasti nanti hasilnya akan terlihat juga," tukasnya.

Ia menilai dalam jangka panjang keberadaan desa wisata juga akan berdampak sangat baik bagi sektor pariwisata NTB yang terus berkembang pesat.

Apalagi Sirkuit Mandalika di KEK Mandalika Lombok Tengah sudah ditetapkan sebagai lokasi seri MotoGP 2021 oleh Dorna Sport dan ITDC.

Hal ini dinilai sebagai peluang sekaligus tantangan bagi kepariwisataan NTB.

Di satu sisi, Lombok sebagai destinasi wisata unggulan nasional akan melejit promosinya hingga ke seluruh dunia, sementara di sisi lain, secara internal di tataran masyarakat dan pelaku wisata di Lombok dan NTB secara umum kesiapan juga harus mulai dibangun.

"Salah satu yang harus disiapkan ya semakin banyak destinasi baru, salah satunya Desa Wisata," katanya.

Potensi desa wisata di Lombok menurutnya harus terus didorong pertumbuhannya. Hal ini perlu dilakukan agar "Roti Pariwisata" yang kelak datang di saat MotoGP mulai diselenggarakan di Lombok, bisa terdistribusi dan dirasakan juga oleh masyarakat Lombok.

"Semangat kepariwisataan kita tentu harus berpihak juga pada pertumbuhan ekonomi masyarakat. Desa wisata ini bisa jadi jawaban, agar roti pariwisata yang besar bisa terdistribusi juga bagi masyarakat," katanya.

Ia memaparkan, berdasarkan catatan, setiap kali event MotoGP digelar akan mampu menarik tak kurang dari 150 ribu wisatawan yang datang.

Sehingga dalam kurun dua tahun sejak sekarang pembangunan hotel dan sarana amenitas juga terus dikebut di Lombok.

Dengan kesiapan masyarakat dan desa-desa wisata, paparnya,  ribuan wisatawan dari berbagai negara yang datang bisa memiliki banyak pilihan berwisata, saat datang ke Lombok untuk menyaksikan MotoGP.

"Bukan hanya menjual amenitas homestay dan keindahan desa, desa wisata juga mampu menjadi penggerak ekonomi di sektor UMKM misalnya kerajinan
dan industri kreatif," katanya.