Gaduh Faskes di RI Vs LN, Pakar Singgung Obat Mahal Berujung Jastip

13/03/2023

Belakangan, perbandingan layanan kesehatan di Indonesia dan luar negeri disorot publik. Mulai dari kecepatan pengobatan hingga harga obat yang diklaim relatif lebih murah.
Menurut Mantan Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Prof Tjandra Yoga Aditama, persoalan harga obat memang masih menjadi tantangan pemerintah untuk bisa memproduksinya dengan jauh lebih ekonomis.

"Di sisi lain memang untuk beberapa pemeriksaan dan pengobatan tertentu ternyata harganya di negara tetangga lebih murah dari kita di Indonesia, walaupun saya tidak punya data perbandingan angka secara pasti," terang Prof Tjandra dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom Senin (13/3/2023).

A découvrir également : Kekurangan obat: di jantung pabrik Sanofi yang memproduksi "340.000 tablet Doliprane per jam

"Untuk ini salah satu penjelasannya adalah harga alat kedokteran yang memang lebih mahal di Indonesia daripada di sebagian negara tetangga. Pengalaman pribadi misalnya, teman-teman dokter yang datang atau belajar ke India waktu saya bekerja di WHO dan berdomisili di New Delhi maka banyak yang pulang membawa berbagai alat kesehatan yang memang lebih murah harganya," sambung dia.

Prof Tjandra mengaku ini juga membuat banyak pihak melakukan 'jastip' obat secara hand carry. Terlebih, untuk mereka yang rutin meminum obat.

A lire en complément : Youtuber berusia 23 tahun mempertimbangkan untuk bunuh diri dengan bantuan

Meski begitu, dalam sisi kualitas dokter atau tenaga kesehatan lain, Prof Tjandra meyakini SDM di Indonesia tidak kalah dibandingkan 'jebolan' luar negeri. Terbukti pada beberapa apresiasi dan penerimaan penghargaan sejumlah pakar, meskipun memang tidak merata di setiap wilayah Tanah Air.

"Kalau di India maka obat-obatan juga jauh lebih murah dari di kita, sehingga saya pun sampai sekarang memakan obat rutin yang saya beli dari India, baik titip ke teman maupun beli sendiri ketika saya ke Mumbai dua minggu yang lalu," ceritanya.

Lebih lanjut, ia kembali mengingatkan untuk tak langsung menyimpulkan kualitas nakes dengan beda diagnosa antar dokter. Istilah yang sempat viral beberapa waktu lalu terkait stroke kuping tak lantas mengartikan kemampuan dokter di Indonesia masih jauh di bawah standar luar negeri.

"Dalam berbagai arena ilmiah kedokteran maka tidak sedikit dokter dan pakar kesehatan kita yang cukup menonjol dan mendapat apresiasi dihormati. Demikian juga jelas selama ini peran penting dokter dan pakar kita di berbagai organisasi internasional kesehatan dan kedokteran regional dan dunia," sebutnya.

Sari Dewi

Sari Dewi adalah seorang jurnalis yang berdedikasi pada isu-isu lingkungan di Indonesia. Ia telah menjelajahi negara ini untuk mendokumentasikan akibat deforestasi, polusi sungai, dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat lokal. Karyanya telah meningkatkan kesadaran publik akan urgensi pelestarian lingkungan dan menginspirasi inisiatif pelestarian di seluruh negara.

Go up