M16 Memprediksi Banyak Caleg Incumbent Tumbang di Pemilu 2019

Advertisement

M16 Memprediksi Banyak Caleg Incumbent Tumbang di Pemilu 2019

Redaksi KATAKNEWS
Rabu, 26 Desember 2018

DIREKTUR M16. Bambang Mei Finarwanto (BMF), usai menyampaikan Catatan Politik Akhir Tahun 2018 .(KATAKNEWS/Istimewa)

Catatan Politik Akhir Tahun 2018 versi Lembaga Kajian Politik M16. 

MATARAM - Lembaga kajian Sosial dan Politik NTB, M16 memprediksi Pemilu 2019 bakal berjalan seru dengan fenomena penuh ambigu.

Di tingkat Pileg, Pemilu 2019 bakal menjadi ajang pembuktian di mana akan ada banyak Caleg petahanan alias incumbent yang justru terpuruk ditinggalkan konstituen pemilihnya 5 tahun silam.

Di lain sisi, Pemilu 2019 juga akan menjadi ajang dan momentum hadirnya Caleg-Caleg baru, kelompok muda millenial yang memiliki visi dan misi perubahan yang lebih konkrit.

M16 menilai kemenangan Zul Rohmi (Gubernur dan Wakil Gubernur NTB) dalam pentas Pilgub NTB yang lalu, akan menjadi Trigger dan Spirit di kalangan Caleg Pemula maupun muda untuk meraih sukses memenangi Pemilihan Legislatif , April 2019.

"Zul Rohmi telah menjadi ikon perubahan bagi Caleg Muda. Inspirasi inilah yang kemudian mendorong banyak Caleg Muda untuk meniru cara blusukan Zul Rohmi (yang secara) day by day menyapa warga," kata Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH, Rabu (26/12), dalam Catatan Politik Akhir Tahun 2018 versi M16.

Didu - sapaan akrab Bambang Mei - mengatakan, M16 memprediksi banyak caleg petahana akan tumbang dan dijauhi konstituen karena dianggap tidak memiliki visi dan semangat perubahan seiring dengan perubahan zaman. Sementara dengan bertambahnya pemilih pemula Milineal, Caleg muda yang bisa meraih simpati pemula akan mudah melenggang ke parlemen.

M16 menilai Pilleg 2019 merupakan era kebangkitan partisipasi politik pemilih Milenial dan kelas menengah yang sadar politik. Hal ini ditandai dengan intensnya keterlibatan orang-orang muda dalam mengorganisir moment moment politik di wilayahnya.

"Politik tidak dipandang sebagai hal yang menakutkan tapi sudah menjadi bagian *gaya hidup* oleh kaum Milenial," tukas Didu.

Selain itu, papar Didu, M16 melihat caleg pemula/muda di berbagai tempat di NTB sudah berani melawan arus mainstream yakni menjelajah wilayah yang diklaim basis incumben. Agresivitas Caleg Muda dalam melakukan penetrasi basis pemilih sedemikian masiv dan teratur dengan target tidak besar per TPS.

"Kebanyakkan caleg muda minus logistik, menjauhi politik grosiran yang sulit diverifikasi dukungan riilnya, tetapi lebih mengedepankan manuver politik day by day dengan pendekatan TPS yang lebih presisi basis dukungan pemilihnya," ungkap Didu.

Ia menambahkan, menyadari kelemahan dari sisi logistik, Caleg Muda mengambil pilihan taktik meniru gaya blusukan Zul Rohmi yang dimodifikasi menyesuaikan dengan sikon politik setempat.

"Semangat api perubahan yang diusung caleg muda lintas parpol rata-rata terilhami oleh success story Zul Rohmi, bahwa tak ada yang tidak mungkin dalam politik," lanjut Didu.

Sementara itu aneka terobosan politik dalam meraih persepsi votter oleh caleg muda merupakan *early warning* bagi caleg incumbent agar bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi.

Caleg Incumbent jika tidak merubah pendekatan politiknya dan tetap konvensional akan dijauhi konstituennya, apalagi yang jarang turun dan merawat loyalisnya.

"Pendek kata Pilleg 2019 mendatang akan banyak politisi  pemula/muda yang akan duduk di parlemen NTB  karena mampu menyakinkan rakyat dengan ide dan gagasan  perubahan yang Milenial," tegas Didu. K18/*