HBK : Saya Nyaleg Bukan untuk Cari Jabatan dan Harta

Advertisement

HBK : Saya Nyaleg Bukan untuk Cari Jabatan dan Harta

Redaksi KATAKNEWS
Jumat, 12 Oktober 2018

H Bambang Kristiono (HBK) bersama istri, Hj Dian Bambang dalam sebuah kesempatan wawancara media.(KATAKNEWS/Istimewa)

MATARAM - Sosok tegas nampak dari bagaimana cara H Bambang Kristono (HBK) bertutur kata. Dan ketegasan suaranya yang tetap berbalut tata kesantunan, menunjukan HBK memang merupakan seorang pemimpin yang seolah tanpa batas dengan siapa saja.

Didampingi istri tercinta, Hj Dian Bambang, HBK yang mengenakan kaos casual dipadu jeans, Jumat malam (12/10), berbincang akrab dengan sejumlah media di lantai 2 Hotel Lombok Astoria di Mataram, NTB.

Petinggi Partai Gerindra yang terkenal sangat akrab dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto ini, maju sebagai Calon Legislatif (Caleg) DPR RI dalam Pemilu 2019 mendatang.

Menariknya, HBK memilih Pulau Lombok sebagai daerah pemilihan (Dapil) justru karena terpikat keindahan alam dan kesuburan pertanian di pulau Seribu Masjid ini.

"Saya bisa saja memilih Provinsi lainnya (Sebagai Dapil). Tapi dari hati saya, Lombok ini berbeda. Saya jatuh cinta dengan pulau ini, dan bertekad untuk berbuat sesuatu untuk masyarakatnya," kata HBK.

Yang membuat HBK jatuh cinta adalah kesuburan lahan pertanian di Lombok, selain keindahan alam dan karakteristik masyarakat yang sangat religius dan memegang budaya ketimuran.

Lalu, apa yang akan diperbuat HBK untuk Lombok dan masyarakat NTB yang diwakilinya kelak? Ya, ternyata sektor Pertanian.

"Fokus saya satu, pertanian. Saya tidak menjanjikan yang muluk-muluk dengan banyaknya program, tapi cukup pertanian. Dan suatu ketika buktikanlah bahwa pertanian di Lombok, NTB ini suatu ketika akan mampu mensejahterakan masyarakat NTB," katanya.

Menurutnya, potensi sektor pertanian di Lombok ini sangat luar biasa. Apa saja ditanam, apa saja bisa baik hasil panennya. Lombok dan NTB secara umum, juga sudah menjadi daerah surplus beras dengan produksi rerata mencapai 2.3 juta ton setara beras pertahun di saat kebutuhan masyarakat lokal NTB berkisar 600 ribu hingga 700 ribu ton pertahun.

Beberapa tahun terakhir surplus beras produksi NTB juga bisa memenuhi kebutuhan Provinsi tetangga, Bali dan NTT, selain untuk membantu pemenuhan stok beras nasional.

Toh, surplus beras di NTB tidak berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan kaum petaninya. Komoditas pertanian lainnya pun begitu, hanya memimpin dari sisi kuantitas hasil produksinya semata. Semantara kesejahteraan para petani yang sejatinya merupakan ujung tombak keberhasilan sektor pertanian justru nampak terbaikan.

Ia mencontohkan bagaimana anjloknya harga Bawang Merah di Kabupaten Bima, justru ketika hasil produksi petani sedang bagus-bagusnya. Akibatnya, para petani menjerit, menderita kerugian, dan terlilit beban hutang ongkos produksi yang tidak murah.

Sementara, Pemerintah Daerah dan Kementerian yang bertanggung jawab di tingkat pusat seolah menyalahkan over produksi sebagai biang keladi anjloknya harga Bawang Merah di Bima.

"Harga bawang anjlok yang disalahkan over produksi, ini kan tidak menjawab dan tidak memberikan solusi bagi petani. Jadi menurut saya, ada yang salah dengan pengelolaan sektor pertanian kita. Dan masalah utamanya adalah kita sebagai pemerintah meninggalkan petani, petani kita suruh jalan sendiri. Ini jelas harus diperbaiki ke depan," tegasnya.

Menurut HBK, anjloknya harga suatu komoditas pertanian di Indonesia ini, bukan disebabkan over produksi, tapi lebih kepada belum tersedianya sistem dan infrastruktur pengolahan pasca produksi, dan juga sistem pemasarannya.

Hal ini, tambah HBK masih juga diperparah dengan longgarnya kebijakan impor oleh pemerintah yang bermuara pada persaingan timpang antara petani di pedesaan dengan kartal besar pemain impor.

"Jadi hanya ada dua penyebab petani kita tidak bisa sejahtera. Pertama karena sistem pengelolaan dari hulu sampai hilir belum maksimal dan terkoneksi, dan yang kedua masih adanya mental korupsi oknum pejabat kita," tukasnya.

Mantan perwira korps baret merah Kopassus yang kini menjadi pengusaha sukses ini menjelaskan, masih buruknya sistem pengelolaan sektor pertanian dan masih belum sejahteranya masyarakat petani itulah yang membuat tekadnya semakin bulat untuk berbuat sesuatu melalui jalur Kursi Senayan.

Bagi HBK, harus ada yang memulai dan berani menyuarakan aspirasi kaum petani, keluhan dan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi yang selama ini terkesan tak tersuarakan.

Tampilnya sosok seperti HBK dalam kancah Pileg 2019 ini juga menepis stigma kebanyakan yang menyebutkan umumnya orang menjadi caleg karena ingin jabatan dan kekayaan materil harta benda.

"Saya nyaleg bukan untuk cari jabatan dan harta. Kalau hanya itu, Alhamdulillah saya sudah lebih dari cukup tanpa jadi anggota DPR pun saya sudah sangat berkecukupan. Tapi saya maju untuk perubahan, untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani kita dan keberpihakan kebijakan pemerintah untuk masyarakat petani kita ini," tegasnya.

Meski sudah memiliki usaha yang sangat mapan dan banyak asset nasional dan luar negeri, HBK mengaku masih merasa kurang jika belum bisa berbuat yang terbaik untuk sektor pertanian.

Menurut HBK, sektor pertanian di Lombok, NTB ini bisa memberikan dua output positif bagi kesejahteraan masyarakat jika dikelola dengan baik dan benar. Yang pertama adalah membuka ruang lebih luas untuk penyerapan tenaga kerja, dan selanjutnya menjadi roda penggerak utama perekonomian di daerah ini.

"Tapi saat ini kan masih ironis. Pertanian di Lombok ini sangat luar biasa, tapi faktanya masih banyak masyarakat yang menjadi TKI ke luar negeri juga. Padahal jika dikelola dengan benar, maka pertanian bisa menjadi lahan pekerjaan yang mampu menekan angka pengangguran di daerah ini. Ini yang akan saya perjuangkan jika kelak mendapat amanat dari masyarakat Lombok," katanya. K18