Belasan Tahun Gadis Penderita Tuna Netra Hidup Bersama Neneknya di Gubuk Reot Tak Layak Huni di Lombok Barat

Advertisement

Belasan Tahun Gadis Penderita Tuna Netra Hidup Bersama Neneknya di Gubuk Reot Tak Layak Huni di Lombok Barat

KATAKNEWS.com
Rabu, 10 April 2019

KEMISKINAN. Harni (15) dan papuq Marisah (95) bersama pengurus Tangan Berbagi Indonesia, Fahrurrozi Ojik. (Istimewa)  


LOMBOK BARAT - Satu lagi potret kemiskinan terjadi di Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Harni, seorang gadis berusia 15 tahun, yang menderita tuna netra sejak lahir, harus hidup sangat bersahaja dan jauh dari kecukupan bersama Papuq Marisah (95) neneknya, di Dusun Cendi Manik, Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat.

Selama belasan tahun pula, Harni dirawat dan dibesarkan oleh papuq Marisah, di sebuah gubuk kecil yang jauh dari kata layak huni.

DONASI ANDA. Anda bisa turut meringankan beban Harni dan papuq Marisa, dengan menyalurkan donasi di sini.

Keberadaan Harni dan papuq Marisah ditemukan oleh Tangan Berbagi Indonesia, sebuah yayasan penyalur bantuan sosial, ketika yayasan tersebut menyalurkan bantuan tenda untuk korban gempa bumi 2018 lalu.

"Kondisinya sangat menyedihkan. Jadi Harni bersama papuk Marisah tinggal di gubuk yang terbuat dari bekas berugak kemudian dindingnya dari bedek dan bahan seadaanya, sangat reot dan rapuh," kata salah seorang pengurus Tangan Berbagi Indonesia, Fahrurrozi Ojik, Rabu (10/4) di Mataram.

Menurut Ojik, sejak Agustus 2018 hingga saat ini Tangan Berbagi Indonesia sudah berhasil mengumpulkan sejumlah bantuan dana dan bahan untuk membantu Harni dan neneknya membangun rumah yang layak, meski secara bertahap.

"Ada bantuan dari sejumlah dermawan yang kita alokasikan untuk membantu membangun rumah sederhana dua kamar," katanya.

Namun, papar Ojik, di saat pembangunan saat ini sedang berjalan, Harni dan neneknya kembali dilanda kesulitan lantaran harus membayar ongkos tukang yang cukup besar.

"Proses pembangunan rumah sudah setengah berjalan, sudah ada pondasi dan sedang naik tembok. Tapi terkendala ongkos tukang yang mahal," kata Ojik.

Ia berharap ada banyak pihak baik pemerintah daerah maupun para dermawan yang ikut peduli dan membantu kesulitan yang dialami Harni dan papuq Marisah ini.

Tidak Sekolah Namun Pandai Mengaji

Ojik mengatakan, Harni memang tidak sempat mengenyam bangku pendidikan formal.

Jangankan bersekolah, untuk memenuhi kebutuhan hidup dia dan neneknya pun harus menunggu kebaikan keluarga dan kerabat.

"Harni ini begitu lahir sudah ditinggalkan orangtuanya, dan diasuh oleh neneknya. Tidak sekolah karena kemiskinan," katanya.

Tapi, papar Ojik, Harni sangat pandai mengaji.

Melantunkan ayat suci Al-Quran dilakukan Harni dengan hafalan yang kuat. Ia juga belajar mengaji dengan cara mendengarkan.

"Jadi dalam segala kekurangannya dan tanpa pendidikan, Harni ini merupakan generasi muda yang punya bakat dan kemauan untuk maju. Kami harapkan dengan banyak yang peduli atas kondisinya, akan banyak pula kesempatan bagi Harni dan neneknya untuk menikmati kehidupan yang lebih layak lagi," kata Ojik. (*)