Sholat Berjamaah, Cara BSBR Karya Mandiri Bentuk Karakter Anak Binaan

Advertisement

Sholat Berjamaah, Cara BSBR Karya Mandiri Bentuk Karakter Anak Binaan

KATAKNEWS.com
Selasa, 26 Maret 2019

Para anak binaan Balai Sosial Bina Remaja (BSBR) Karya Mandiri melaksanakan sholat berjamaah di aula yang "disulap" menjadi Mushola. (Foto: Istimewa)   


LOMBOK BARAT - Balai Sosial Bina Remaja (BSBR) Karya Mandiri mewajibkan anak binaan untuk selalu menunaikan ibadah sholat Zuhur berjamaah setiap hari.

Hal ini merupakan upaya untuk membentuk karakter dan kepribadian anak binaan di BSBR Karya Mandiri yang terletak di Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Lombok Barat.

"Kewajiban melaksanakan shalat secara berjamaah adalah kewajiban yang rutin kita lakukan untuk melatih kedisiplinan siswa binaan agar mereka memiliki kepekaan dan ketaatan sebagai umat islam," ujar Kepala BSBR Karya Mandiri Bengkel, Wahyu Hidayat, Selasa (26/3).

Meski belum memiliki bangunan Mushola permanen tersendiri, sholat berjamaah tetap bisa dilakukan dengan "menyulap"
salah satu ruang aula yang berada di pojok bangunan.

Di ruangan itu lah anak-anak binaan yang berasal dari berbagai wilayah di NTB itu melaksanakan shalat Zuhur berjamaah.

Kendati berada di bangunan mushala yang cukup sederhana, namun para siswa binaan beserta pengelola BSBR terlihat khusuk beribadah melaksanakan shalat Zuhur .

Apalagi, usai shalat secara berjamaah, salah satu siswa diwajibkan secara bergilir mengisi kuliah tujuh menit (kultum).

Wahyu Hidayat mengatakan, puluhan anak-anak binaan itu, senantiasa dengan kesadaran pribadi melaksanakan sholat secara berjamaah.

Menurut dia, yang terpenting pendidikan agama dikedepankan selain ketrampilan adalah menggugah kesadaran mereka.

Ia menceritakan, awalnya program sholat berjamaah yang dilanjutkan kultum itu, sangat sulit diterima oleh para anak binaan.

Apalagi anak-anak ini datang dengan latar belakang berbeda, seperti yang sudah ditinggal orang tuanya sejak kecil, dan mereka tinggal di jalanan.

Ada juga anak binaan yang berasal dari keluarga broken home, sehingga mereka menjadi sampah masyarakat.

"Tapi dengan pola pendekatan yang dilakukan para guru dan pihak panti dengan mendekati mereka satu per satu. Alhmdulillah, kini, kami tidak lagi perlu memaksa," katanya.

Wahyu memaparkan, hal ini juga membuat kedisiplinan anak binaan membaik.

Misalnya dalam hal baris pada apel pagi, saat sekarang ini secara teratur meluruskan barisannya sendiri banjar dan safnya.

"Ini merupakan buah dari kesadaran yang telah melekat di hati anak binaan," jelas Wahyu.

Ia berharap, dengan kesadaran seperti itu, maka dapat meningkatkan kedisiplinan dalam menuntut ilmu.

"Khusus program pembelajaran di kelas, kami rutin mengundang para tutor dari luar," katanya.

Harapannya, dengan berbagai pengalaman yang dimiliki para tutor dari berbagai profesi dapat mengasah mental anak-anak binaan untuk bisa terus optimis, serta tidak minder manakala sudah keluar dari BSBR Karya Mandiri. (*)