Potensi Industri Garam di NTB Belum Digarap Maksimal

Advertisement

Potensi Industri Garam di NTB Belum Digarap Maksimal

KATAKNEWS.com
Sabtu, 23 Februari 2019

Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Andi Pramaria.


MATARAM - Potensi Provinsi NTB menjadi daerah penghasil garam sangat besar, namun produksi garam belum digarap maksimal sebagai industri yang menjanjikan.

Data Dinas Perindustrian Provinsi NTB menyebutkan, NTB yang terdiri dari pulau Lombok dan Sumbawa saat ini memproduksi rata-rata mencapai 104 ribu ton per tahun.

Hanya saja proses pengolahan akhir berstandar garam beryodium, hingga kini belum banyak dilakukan oleh pelaku industri garam di NTB.

"Meskipun beberapa waktu dicanangkan untuk menjadi garam beryodium, namun kini tak tampak sama sekali. Padahal NTB memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan produksi garam," kata Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Andi Pramaria.

Menurutnya, industri garam yang ada sampai saat ini masih tetap berjalan dan produksinya tercatat meningkat.

Tapi kualitas masih perlu ditingkatkan lagi, agar produksi untuk garam yodium tersebut dapat lebih meningkat.

“Industrinya masih ada, tetapi untuk sekarang ini kita mau tingkatkan. Karena memang mau dibuat garam yodium itu,” kata Andi Pramaria.

Kendala yang terjadi saat ini, papar Andi, para pelaku industri garam di Lombok dan Sumbawa masih enggan mengolah hasil produksinya menjadi garam beryodium, lantaran harga jual yang dinilai terlalu murah dengan kemasan lebih bagus.

“Salah satunya seperti industri garam di Sumbawa, mereka itu lebih memilih menjual dengan kantong kresek, dari pada yang sudah dikemas rapi. Karena harga jualnya hanya Rp1000 perbungkus itu,” terangnya.

Tidak hanya belum mampu memanfaatkan peluang produksi garam industri, mereka juga belum bisa meningatkan kualitas produksi garam rakyat.

Andi menilai, minimnya perhatian dan pendampingan dari Pemda setempat dan stakholders terkait menyebabkan capaian produksi dan kualitas jauh dari harapan.

Untuk itu, Disperin NTB saat ini melatih para pelaku industri garam tersebut agar dapat meningkatkan kualitas garam mereka.

“Saya minta mereka dilatih buat garam youdium itu, kita mulai dari kualitasnya dulu baru di kuantitas. Memang sudah ada industri kecil-kecil yang buat garam yodium itu baru di Lombok Timur, Bima saja yang belum, disana lebih senang dijual langsung,” katanya.