Pariwisata NTB, Hanya Ramai di Seremoni Tapi Sepi di Okupansi

Advertisement

Pariwisata NTB, Hanya Ramai di Seremoni Tapi Sepi di Okupansi

Redaksi KATAKNEWS
Jumat, 22 Februari 2019

Menteri Pariwisata RI Arief Yahya dalam kunjungan kerja di KEK Mandalika, Lombok Tengah. (Foto: Humas Pemprov NTB)


MENGUTIP majalah terbitan New York, Travel and Leisure, saat berkunjung ke Gili Air, Kamis (21/2) Menteri Pariwisata Arief Yahya menyampaikan kebanggaan bahwa pulau Lombok masuk dalam daftar 15 pulau terindah di dunia.

Di sela seremoni peletakan batu pertama pembangunan AMA Lurra Ecoresort, yang dihadiri Gubernur NTB Dr H Zulkieflimansyah dan sejumlah pejabat Pemprov NTB dan Pemda Lombok Utara itu, Menpar Arief Yahya juga menyampaikan, Lombok boleh berbangga karena 2021 mendatang akan menjadi tahun pertama di mana Sirkuit MotoGP di kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika ditunjuk sebagai lokasi seri MotoGP yang bakal menghadirkan tak kurang dari 100 ribu wisatawan mancanegara.

Arief juga menukas, branding Wisata Halal untuk NTB akan membuat posisi daerah ini meningkat sebagai destinasi wisata nasional yang bisa diandalkan.

"Nah ini (semua) jadi membuat NTB positioningnya semakin kuat. Positioning halal itu akan membuat pertumbuhan pariwisata di NTB itu tertinggi," kata Menpar Arief Yahya.

Dalam kunjungan kerjanya ke beberapa lokasi di Lombok, Menpar Arief Yahya nampak ingin menggugah optimisme ; Pariwisata Lombok, NTB agar segera bangkit kembali.

Di KEK Mandalika, Lombok Tengah, Menpar Arief Yahya juga memuji persiapan jajarannya bersama Dinas Pariwisata Provinsi NTB dan Lombok Tengah untuk menghelat event Pesona Bau Nyale 2019, salah satu dari 18 agenda dalam Calendar of Event (CoE) Pariwisata NTB tahun 2019.

Menpar Arief Yahya juga mengapresiasi upaya ITDC selaku pengelola KEK Mandalika atau The Mandalika Resort dalam menyiapkan wahana The Bazaar Mandalika yang dihajadkan untuk para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di sekitar kawasan.

Setop sampai disini. Ya, Pariwisata NTB baik-baik saja, ramai dan bergairah. Setidaknya di tahun 2021 yang akan datang, di saat lebih dari 2000 kamar hotel tersedia di kawasan The Mandalika, dan sekira 100 ribuan penggila Marc Marquez, Jorge Lorenzo, dan Valentino Rossi, datang untuk menyaksikan langsung seri MotoGP perdana di Indonesia, di sirkuit terbuka The Mandalika.

Momok Bernama Tiket Pesawat Mahal

Di seberang jalan depan gerbang utama Kantor Indonesia Tourism Development Corporate (ITDC), di Desa Kuta, Lombok Tengah, sederetan warung kopi tertata kurang rapi.

Dari sini, suara merdu tabuhan Gendang Beleq menyambut Menpar Arief Yahya masih cukup jelas terdengar.

"Iya, sekarang lebih sepi. Katanya karena tiket (pesawat) mahal orang malas datang ke Lombok," kata Man, pria sekitar 32 tahun yang mengaku sebagai tukang ojek. Di sepeda motor Vario merah miliknya, yang terparkir di depan warung kopi, nampak setumpuk kain tenun, kaos Lombok, dan pernak-pernik cinderamata kerajinan tangan.

Sambil beberapa kali menyeruput kopi, Man mengaku masih bisa bersyukur. Meski kunjungan wisata cenderung menurun, kawasan pantai Kuta Mandalika tidak menderita separah kawasan Senggigi, di Lombok Barat.

"Senggigi katanya lebih sepi. Kalau disini kan kadang-kadang ada saja (tamu yang datang), kayak sekarang kan ada pejabat-pejabat agak ramai lah," kata Man.

Harga tiket pesawat mahal, mungkin tak akan berpengaruh bagi para pejabat - seperti yang dimaksud Man - untuk bepergian berkeliling daerah, karena semua ditanggung anggaran negara.

Tapi bagi wisatawan, harga tiket pesawat yang mahal akan terasa sangat membebani perjalanan liburan, termasuk ke Lombok. Dan bagi para pelaku wisata di Lombok, harga tiket mahal belakangan menjadi momok menakutkan.

Momok yang satu ini juga beberapa kali terlontar dalam Rapat Koordinasi Akselerasi dan Singkronisasi Kepariwisataan Lombok-Sumbawa Pasca Bencana, yang digelar Kemenpar RI bersama Dinas Pariwisata NTB, Rabu (20/2) di Hotel Lombok Raya, Mataram.

Ketua Assosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) NTB, Ahmad Ziadi mengakui dampak harga tiket pesawat mahal dan juga bagasi yang berbayar membuat kondisi pariwisata Lombok yang belum pulih benar pascagempa pertengahan 2018, kembali terseok-seok untuk bangkit.

Ziadi yang juga punya bisnis Travel Agent, mengaku sudah mempromosikan paket wisata super murah menyambut event Festival Pesona Bau Nyale 2019 yang puncaknya akan digelar pada 25-26 Februari nanti. Tapi, paket murah beriming-iming banyak bonus menyenangkan tetap tak mampu menyedot pasar.

"Jujur untuk Bau Nyale ini saya bikin paket 2 hari 3 malam, Rp800 ribu/net. Ini super murah, tapi tidak laku. Masalahnya harga tiket pesawat mahal, untuk pulang pergi malah bisa lebih mahal dari harga paket wisatanya, ini yang bikin tamu enggan datang," kata Ziadi.

Bagi Ziadi cukup membuang-buang waktu untuk selalu berdiskusi, jika ujungnya tidak sampai pada rekomendasi solusi yang kemudian diimplementasikan secara nyata.

Tak heran, saat perwakilan Kementerian Pariwisata, Kementerian Desa PDTT, Dinas Pariwisata NTB, dan peserta dari sejumlah stakeholders kepariwisataan membahas kondisi wisata Lombok dan Sumbawa di ballroom Hotel Lombok Raya, Ahmad Ziadi memilih lebih sering berada di area smoking room, menyeruput kopi sambil merugikan kesehatannya dengan merokok.

Toh, membedah paket wisata super murah yang dibuatnya, Ziadi malah geleng-geleng kepala. Malam ketiga ia arahkan untuk wisata belanja, Shoping Out.

"Iya juga ya. Mana ada yang mau belanja, kalau biaya bagasi (pesawat) nanti lebih mahal dari barang belanjaanya?," katanya.

Keluhan Ziadi tentang harga tiket pesawat mahal dan paket wisata yang susah terjual, akan menjadi pertanda kurang bagus bagi Festival Pesona Bau Nyale 2019, di mana Kemenpar dan Dinas Pariwisata NTB menargetkan bisa mendatangkan tak kurang dari 3 ribu orang wisatawan dalam kegiatan itu.

Ini juga sekaligus menandai tak berpengaruhnya event Lombok Sumbawa Great Sale (LSGS) 2019 yang digelar Dispar NTB sepanjang 28 Januari hingga 28 Februari mendatang.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) Provinsi NTB, I Gusti Lanang Patra mengakui tingkat rerata okupansi hotel saat ini merupakan yang terparah dibanding beberapa tahun ke belakang.

Ia mengakui pasti ada penurunan di masa low season. Tapi, di tahun-tahun sebelumnya, rerata okupansi di masa low season masih bisa bertahan di kisaran 30-40 persen.

"Low season tahun ini (rerata) okupansi 10 persen, itu tidak biasa karena tahun-tahun sebelumnya tidak sampai separah ini. Sekarang di bawah 10 persen. Salah satu cara cek itu di Bandara, kalau Bandara lengang ya hotel (pasti) juga lengang," kata Lanang Patra.

Harga tiket pesawat mahal, menurut Lanang, memang menjadi salah satu faktor penyebab, selain recovery pasca bencana yang belum tuntas benar.

"Banyak upaya teman-teman. PHRI kami kemarin saat Rakernas di Jakarta (sudah) minta sama pak Presiden (Joko Widodo) untuk menurunkan harga avtur, dan Garuda sudah turun tiket 20 persen tinggal maskapai lain. Itu upaya kita," katanya.

Ia mengakui akibat lesunya kunjungan wisata, beberapa manajemen hotel harus melakukan efisiensi demi bisa bertahan.

"Kondisi ini terjadi di seluruh Indonesia, hotel di seluruh Indonesia parah, untuk internal kita ya kita efisien lah, ada yang pekerjakan separuh tenaga, separuh pekerja yang 14 hari kerja dan 14 hari setelahnya libur. Tapi belum (sampai) ada PHK. Sekarang banyak masalah kita, di sisi lain biaya kita bengkak kan naik UMP, cost operasional naik 20 persen. Efisiensi supaya kita bisa bertahan saja," tukasnya.

Lanang Patra merupakan GM Hotel Lombok Raya, tempat di mana Rakor digelar. Lombok Raya juga menjadi satu dari hanya sedikit hotel di Kota Mataram yang nampak masih ramai ketika ada yang menyelenggarakan MICE.

Ya harga tiket mahal memang menjadi momok di sektor pariwisata saat ini, sekaligus kerab menjadi pilihan "kambing hitam" bagi pejabat Dinas dan stakeholders yang malas berinovasi.

Pariwisata NTB saat ini, akhirnya terkesan hanya ramai ketika ada seremoni meski nyatanya tetap sepi di okupansi.