Lestarikan Budaya, Pemuda Sesela Gelar Parade Budaya Classic 2019

Advertisement

Lestarikan Budaya, Pemuda Sesela Gelar Parade Budaya Classic 2019

KATAKNEWS.com
Rabu, 06 Februari 2019

Masyarakat dan generasi muda Sesela menggelarpawai budaya sebagai pembuka event Parade Budaya Classic 2019. (Foto: Istimewa) 


LOMBOK BARAT – Pemuda Desa Sesela, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat menggelar event Parade Budaya Classic 2019, Selasa malam (5/2) di lapangan Pasar Desa Sesela.

Event budaya bertajuk "Nguwur Siq Kesangkur" itu digelar untuk melestarikan budaya dan kearifan lokal masyarakat Desa Sesela, sekaligus membumikan kembali tradisi-tradisi penuh makna yang selama ini nyaris tergerus perkembangan zaman.

Tokoh agama panutan Lombok Barat, TGH Munajib Kholid mengatakan, gelaran event budaya tersebut diharapkan bisa menumbuhkan semangat para generasi muda di wilayah Desa Sesela, untuk kembali mengajarkan dan mempelajari tradisi luhur yang diajarkan para nenek moyang warga Sesela.

Ketua Baznas Provinsi NTB itu mendukung pelaksanaan Parade Budaya Classic 2019 bertajuk "Nguwur Siq Kesangkur" itu untuk dijadikan event budaya tahunan di wilayahnya.

Sebab, hal itu akan mampu menumbuh kembangkan kekayaan budaya asli warga setempat untuk bisa ditonjolkan sebagai kekayaan potensi budaya lokal bagi Provinsi NTB ke depan.

"Kearifan lokal yang ada di Sesela itu jangan sampai punah. Tugas kita semuanya, harus melestariskan budaya itu, karena ‘Nguwur Siq Kesangkur’ identik dengan pituah yang tidak boleh dilupakan oleh siapapun, termasuk genarasi muda atau yang lazim dikenal dengan generasi millennial,” kata TGH. Munajib Kholid.

Event budaya tersebut akan digelar hingga sepekan ke depan. Salah satu yang ditampilkan adalah seni pencak silat asli Sesela.

Menurut TGH Munajib, dalam keseharian warga Sesela dulu, tradisi pencak silat merupakan urat nadi keseharian warga setempat.
Dari babad atau catatan sejarah Sesela, masyarakat Sesela adalah masyarakat pemikir dan sangat aktif dalam berbagai kegiatan termasuk melestarikan pencak silat. Sesela zaman dulu merupakan kerajaan kecil yang berafiliasi pada Kerajaan Selaparang.

Namun dalam perjalannya, kata TGH Munajib, hal tersebut tergerus ketika masa penguasaan Kerajaan Karang Asem, di mana kerajaan Sesela dimatikan serta dipecah-belah, dan warga Sesela kala itu bekerja menjadi tukang batu.

"Padahal, jika merujuk babadnya, warga Sesela itu adalah para pemikir. Bahkan, dalam babad Sesela, para pemain pencak silatnya banyak kaum perempuan. Tapi sekarang, kaum perempuan sudah tidak ada lagi melakukan budaya warganya. Tugas kita melalui event budaya ini mengingatkan tentang sejarah wanita Sesela yang pandai bermain pencak silat untuk bisa dihidupkan lagi,” kata TGH Munajib.

Ia menjelaskan, dalam pituah Sesela terdapat delapan hal yang harus dipedomani oleh para generasi muda. Antara lain mereka harus bisa menjadi seperti langit, air, angin, tanah, matahari, bulan, api dan menjadi embun.

Jika delapan hal itu bisa dilakukan, maka kehidupan kemasyarakatan, berbangsa, bernegara serta beragamaan akan bisa berjalan dengan baik.

“Yang pasti, nenek moyang warga Sesela itu telah mengatur kehidupan genarasi mudanya agar cinta tanah air dan menjadi penyejuk bagi alam dan tanah airnya. Kalau delapan pituah bijak ini kita pedomi, maka paham-paham yang tidak sesuai dengan budaya kita dan memecah belah bangsa jelas tidak akan memperoleh tempat,” tandas TGH Munajib Kholid.

Sementara itu, Ketua Panitia Parade Budaya Classic "Nguwur Sik Tesangkur" Sabri menjelaskan, event budaya ini digelar sebagai upaya generasi muda di Sesela untuk menghidupkan kembali budaya tanah leluhurnya agar tidak punah akibat pengaruh perkembangan zaman saat ini.

“Kewajiban kita, selaku generasi muda untuk menghidupkan budaya yang lahir dari tradisi untuk bangkit kembali. Insya Allah, dari hasil kajian kami, seluruh budaya leluhur umumnya sangat baik karena berisi ajakan yang sangat mulia. Jadi, wajib tugas kami untuk terus melestarikannya,” kata Sabri.

Kegiatan Parade Budaya Classic 2019 bertajuk "Nguwur Siq Kesangkur" dibuka dengan pawai obor keliling desa yang diikuti seluruh anak-anak muda di semua dusun di wilayah desa Sesela.

Kegiatan ini sendiri akan dihelat selama sepekan ke depan, dengan beragam rangkaian atraksi dan kegiatan budaya asli Sesela.