HBK : Management Pemasaran Ashitaba Sembalun Perlu Dibenahi

Advertisement

HBK : Management Pemasaran Ashitaba Sembalun Perlu Dibenahi

Redaksi KATAKNEWS
Senin, 11 Februari 2019

H Bambang Kristiono (HBK) bersama petani Ashitaba di Sembalun, Lombok Timur.



LOMBOK TIMUR - Kawasan Sembalun di Lombok Timur bisa dibilang "surganya" hortikultura. Sayur mayur dan komoditas buah apa pun jenisnya, bisa tumbuh di sini.

Belakangan, Ashitaba (Angelica Keiskei Koidzumi) tanaman khas Jepang yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, juga mulai dikembangkan masyarakat di kawasan ini.

Sayangnya, meski bisa tumbuh subur dibanding di negara aslinya, Ashitaba Sembalun masih terbentur sistem pengolahan dan management pemasaran yang belum maksimal.

Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra, H Bambang Kristiono , SE yang akrab disapa HBK menilai management pemasaran dan pengolahan tanaman holtikultura Ashitaba yang dikembangkan di kawasan Sembalun, Lombok Timur, masih perlu dibenahi dan diberdayakan.

"Pohon Ashitaba di kawasan Sembalun ini, dari sisi pertumbuhan lebih cepat (dibanding) dari negara asalnya (Jepang). Jika di Jepang Ashitaba yang dikembangkan melalui Teknologi Green House baru bisa dipanen 7 bulan semenjak pembibitan, tapi di Sembalun Ashitaba bisa dipanen pada usia 3 sampai 4 bulan," ungkap HBK, Kamis (7/2) saat berkunjung ke lokasi penanaman pohon Ashitaba milik Haji Aidir, di Dusun Pesanggrahanm, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur.

Menurut HBK, Ashitaba dikenal sebagai tanaman obat yang memiliki beragam fungsi baik daun, getah dan akarnya yang bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomis bila dikelola dengan baik.

"Masalahnya sekarang petani Ashitaba Sembalun terbentur pada pemasaran dan harga yang kerap fluktuatif," ungkap HBK.

HBK melihat hal ini akibat pemasaran Ashitaba di Sembalun tidak dilakukan dengan profesional.

Petani Sembalun tidak memiliki networking atau jaringan pasar. Mereka juga belum memiliki kapasitas untuk menembus pasar yang lebih luas.

Ia menilai, keterbatasan jaringan pemasaran Ashitaba ini yang membuat harga Ashitaba Sembalun tidak stabil dan tidak semua hasil panen Ashitaba bisa terserap pasar.

Untuk itu, HBK berjanji akan mendatangkan rekan bisnisnya asal Taiwan yang bergerak di bidang produk Ginseng dan turunannya untuk datang ke Sembalun. Tujuannya untuk melihat kemungkinan prospek bisnis tanaman holtikultura ini.

"Sembalun itu ibarat taman sari holtikultura di Pulau Lombok yang bisa ditanami apa saja karena tanahnya begitu subur juga pemandangan alamnya sangat indah," ujar HBK.

Menurutnya, produksi Ashitaba Sembalun tentu akan memberi dampak ekonomis luar biasa jika bisa menembus pasar ekspor.

Secara terpisah, Ketua PAC Partai Gerindra Kecamatan Sembalun, Haji Egi memaparkan, sejarah  awal mula tanaman Ashitaba ditanam di Sembalun yakni sekitar tahun 1996/1997 yang dibawa oleh wisatawan asal Jepang.

Karena pertumbuhan cepat di Sembalun kemudian warga Sembalun berbondong-bondong menanam Ashitaba di setiap pekarangan atau pun kebunnya.

"Saat itu booming panen Ashitaba karena hasil panenan Ashitaba menghasilkan yang cepat," katanya.

Hanya saja, karena over produksi dan sistem pemasaran tidak maksimal, petani banyak juga yang mengalami kerugian.

Kini Ashitaba masih ditanam oleh para petani di Sembalun. Sebab usia Ashitaba bisa mencapai 15 tahunan.

Menurut Haji Egi, harga getah Ashitaba cukup bagus menembus Rp700 ribu per kilogram saat ini.

Ia menjelaskan, produksi Ashitaba setiap 1 hektare lahan tanam bisa menghasilkan 10 ton daun Ashitaba basah, atau sekitar satu ton jika dikonversi kering.

"Adapun harga daun kering Ashitaba per kwintal sampai Rp500 ribuan. Pendek kata Ashitaba ini tanaman yang bernilai ekonomis tinggi dengan usia panen yang relatif singkat," sambungnya.

Namun, karena pasar yang sangat terbatas sehingga tidak semua petani bisa menikmati hasil panennya karena tidak terserap pasar.

Sementara Haji Aidir, petani Ashitaba Sembalun mengatakan saat ini hampir seluruh warga Sembalun menanam Ashitaba, tapi terbentur pada pemasaran.

Kalaupun ada yang beli , tidak lagi bisa membeli seluruh tanaman yang ditanam warga desa.

"Akibatnya kebanyakan warga Sembalun hanya untuk konsumsi sendiri pohon Ashitaba yang ditanam," katanya.

Haji Aidir berharap agar HBK kelak bisa membantu petani Sembalun agar lebih sejahtera dan berdaya lewat tanaman pertanian yang digeluti.

"Di Sembalun ini semua jenis tanaman hoktikultura bisa tumbuh subur seperti seledri, sawi, kentang atau strowberry tapi saat panen harga justru anjlok dan merugikan petani," kata Haji Egi.

Khasiat Tanaman Ashitaba 

Tanaman Ashitaba (Angelica Keiskei Koidzumi) merupakan tanaman herbal yang berasal dari pulau Hachi Jo, Jepang.

Dalam bahasa Indonesia Hachi Jo berarti Pulau Panjang Umur. Nama pulau ini dikaitkan dengan penduduk asli pulau tersebut yang terkenal dengan umurnya yang panjang hingga mencapai 90 tahun.

Konon tanaman Ashitaba sudah banyak digunakan para tabib untuk mengobati berbagai macam penyakit sejak zaman Dinasti Ming (1518 –1593).

Setelah dilakukan banyak riset dan penelitian ditemukan bahwa rahasia umur panjang penduduk Hachi Jo karena setiap hari mereka mengkonsumsi daun Ashitaba.

Sejumlah manfaat Ashitaba yang diyakini khasiatnya antara lain untuk menyehatkan rambut, mencegah berbagai kanker, meningkatkan imunitas atau daya tahan tubuh, sebagai antioksidan alami yang kuat, menyehatkan mata, memperbaiki fungsi hati dan ginjal, menurunkan
kolesterol, dan bisa untuk membantu menurunkan berat badan (diet).