Tim Prabowo-Sandi Protes Dugaan Intimidasi, Polda Bilang Itu Hanya Salah Paham

Advertisement

Tim Prabowo-Sandi Protes Dugaan Intimidasi, Polda Bilang Itu Hanya Salah Paham

KATAKNEWS.com
Selasa, 01 Januari 2019

Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.(KATAKNEWS/courtesy: detik.com)


MATARAM - Tim Pemenangan Pasangan Capres-Cawapres Prabowo Subianto - Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi), melayangkan protes terhadap tindakan sejumlah oknum polisi di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang diduga mengintimidasi dengan caramendatangi Rumah Aspirasi Prabowo - Sandiaga Uno NTB dan diduga merobek buku tamu yang ada di meja resepsionis.

Melalui rilis tertulis, Selasa (1/1), Koordinator Rumah Aspirasi Prabowo – Sandiaga Uno, Lieus Sungkharisma menyatakan pihaknya mengecam keras tindakan aparat Kepolisian NTB tersebut.

“Saya tidak hanya menyesalkan dan mengecam keras tindakan aparat kepolisian tersebut. Tapi juga meminta Kapolri menindak bawahannya itu. Sebab, bila dibiarkan dan tidak ditindak, tindakan aparat kepolisian NTB itu seolah-olah atas restu dari atasan,” kata Lieus.

Menurut Lieus, kejadian itu bermula saat 7 orang aparat kepolisian datang ke Rumah Aspirasi Prabowo – Sandi NTB di depan Islamic Centre NTB, pada Senin (31/12).

“Mereka datang katanya ingin bertamu. Tapi tanpa tujuan yang jelas dan tidak dibekali surat tugas. Anehnya kedatangan mereka tanpa lebih dulu mengkonfirmasi pada tuan rumah,” ujar Lieus.

Hal itu menimbulkan ketakutan di kalangan relawan. Akibatnya, para relawan yang ingin berkunjung ke Rumah Aspirasi mengurungkan niatnya karena mengira sedang ada masalah.

“Teman-teman di sana jadi tidak nyaman,” kata Lieus.

Tidak dijelaskan secara rinci tentang insiden perobekan buku tamu. Namun Lieus menyebut, apa yang dialami relawan Rumah Aspirasi Prabowo – Sandi di NTB itu, seolah intimidasi.

Ia mengatakan, hal itu semakin menguatkan dugaan banyak orang bahwa Polisi tidak netral dalam Pemilu dan Pilpres 2019.

Agar citra Kepolisian tidak semakin buruk dan kepercayaan masyarakat terhadap aparat kepolisian tetap baik, Lieus meminta agar Polisi kembali pada fungsinya sebagai pengayom dan penjaga keamanan. Bukan malah menjadi alat kekuasaan.

“Apa yang dialami kawan-kawan di NTB itu, jelas menunjukkan adanya upaya intimidasi. Tidak sepatutnya aparat kepolisian melakukan hal itu. Rumah Aspirasi NTB itu bukan sarang para penyamun,” katanya.

Sementara itu, Polda NTB mengklarifikasi kejadian yang dinilai sebagai upaya intimidasi.

Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Komang Suartana SIK, Selasa (1/1) menepis tuduhan aparat kepolisian melakukan intimidasi.

“Kami rasa ini hanya salah paham. Personel polisi saat itu sedang melakukan patroli di Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi di depan Islamic Center Mataram,” kata Komang.

Ia menjelaskan, anggota polisi yang datang ke Rumah Aspirasi Prabowo Sandi NTB, saat itu tengah menjalankan tugas patroli dalam rangka Operasi Mantap Brata.

Namun beberapa waktu berselang, justru muncul tudingan intimidasi yang tersebar di media sosial melalui akun facebook berinisial AR.

"Padahal patroli yang dilakukan anggota ini merupakan bentuk pengamanan yang dilakukan polisi dalam rangka melindungi dan mengayomi masyarakat. Persoalan berkomunikasi di satu tempat bersama unsur masyarakat merupakan upaya menyerap persoalan di tengah masyarakat yang dinamakan patrol dialogis," katanya.

Komang memaparkan, para personel kepolisian yang tergabung dalam Satuan Tugas Operasi Mantap Brata (Satgas OMB) memang bertugas dalam rangka pengamanan situasi jelang Pemilu 2019.

Tidak hanya Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi yang menjadi sasaran patrolinya, namun semua tempat baik itu kantor KPU, Bawaslu, Markas Projo, dan kantor-kantor Partai Politik yang ada di wilayah hukum Polda NTB.

Menurutnya, sebelumnya personel Satgas OMB juga sudah pernah mengunjungi Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi NTB, dan tidak ada persoalan.

Malah karena merasa akrab dengan pengurus di Rumah Aspirasi tersebut, anggota Satgas menitip parkir kendaraannya di halaman Rumah Aspirasi saat apel pengamanan malam tahun baru Senin 31 Desember 2018.

"Mereka menaruh kendaraan di tempat tersebut yang kebetulan berhadapan dengan lokasi apel di halaman Islamic Center Mataram. Kalau ada yang tersinggung dan merasa tidak nyaman dengan kegiatan patroli yang dilakukan polisi di tempat tersebut, kami minta maaf. Tapi kami pastikan tidak ada intimidasi atau kepentingan apapun yang dilakukan polisi di tempat itu kecuali dalam rangka perlindungan dan pengamanan,” tegasnya.

Disinggung soal dugaan merobek buku tamu di Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi, Komang menjelaskan kalau yang dilakukan anggota Satgas saat itu tidak ada unsur kesengajaan.

“Ada anggota menerima telepon dan mencatat catatan penting. Lalu karena tidak ada kertas, digunakanlah buku yang ada di meja. Itupun sudah minta ijin sebelumnya kepada salah satu pengurus di sana yang kebetulan sudah pergi saat video situasi itu direkam,” terangnya.

Komang berharap persoalan ini tidak dibesar-besarkan. Ia juga meminta agar apa yang dilakukan polisi dalam upaya pengamanan tidak ditarik-tarik ke dalam ranah kepentingan politik.

"Sebab netralitas Polri dalam pemilu 2019 merupakan harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi," tukasnya. K24