Hadirkan 100 Musisi, Mataram Jazz & Word Music Festival Bakal Bikin Masyarakat Move On

Advertisement

Hadirkan 100 Musisi, Mataram Jazz & Word Music Festival Bakal Bikin Masyarakat Move On

Redaksi KATAKNEWS
Senin, 03 Desember 2018

MATARAM MOVE ON. Ketua Ketua Panitia Mataram Jazz & World Music Festival 2018, Imam Sofian bersama GM Hotel Santika Mataram, Reza Bovier, Senin (3/12) dalam jumpa pers tentang Mataram Jazz & Word Music Festival, di Hotel Santika Mataram. (KATAKNEWS/Istimewa) 

MATARAM, KATAKNEWS.com - Pemerintah Kota Mataram bersama para musisi dan relawan yang tergabung dalam Bandini Production, akan menggelar event Mataram Jazz & World Festival 2018, 8-9 Desember di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram.

Event live music Jazz yang menampilkan sekitar 100 musisi Jazz lokal dan nasional, itu dihajatkan untuk mendorong semangat Lombok Bangkit Kembali pasca bencana gempa bumi, menghibur para relawan, dan juga agar masyarakat Lombok bisa move on dari trauma gempa.

"Kegiatan ini dirancang para seniman, musisi Jazz, dan juga para relawan. Tujuannya untuk mempromosikan Lombok sudah aman, dan juga akan masyarakat kita bisa move on dan kembai menatap optimis ke depan," kata Ketua Panitia Mataram Jazz & World Music Festival 2018, Imam Sofian, Senin (3/12) dalam jumpa pers di Hotel Santika Mataram.

Imam mengatakan, event dengan tagline "Sound of Humanity : Persembahan Jazz untuk Kemanusiaan", ini juga sebagai bentuk penghargaan kepada para seniman yang juga relawan yang sudah banyak berbuat dan membantu masyarakat Lombok, pasca gempabumi Juli-Agustus lalu.

Para seniman ini terlibat menjadi relawan, menyalurkan bantuan logistik, membangun rumah hunian sementara, memberikan trauma healing, dan kegiatan kemanusiaan lainnya.

"Hingga hari ini pun kegiatan mereka membantu para korban masih tetap dijalankan. Refleksi pengalaman menjadi relawan itu memotivasi kami untuk menggelar event ini," kata Imam.

Dalam event ini, tambah Imam, panitia yang tergabung dalam Bandini Production menghadirkan musisi dari dalam dan luar Kota Mataram.

Musisi yang hadir adalah Tohpati Ethnomission (jakarta), Jason Ranti (Jakarta), Dua Drum (Jakarta)Astrid Sulaiman Quartet (Ubud), Jazz Muda Indonesia feat Agis Kania (Jakarta) Ary Juliant (Mataram), Sura Dipa (Mataram), Cerita Fatmawati (Jakarta), Jazz Double Quartet / Jadeq (Mataram), Sambava (Sumbawa), Neo Decker (Mataram), Pesawat Kertas (Mataram) One & Flower (Mataram), Don’t Tell Mom (Mataram), Pelita Harapan Jazz Project feat JKR  (Mataram)

"Ada 100 musisi yang akan hadir termasuk musisi lokal NTB. Komitmen awal kami setiap menghelat acara selalu memberi panggung bagi musisi Nusa Tenggara Barat," kata Imam.

Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengatakan, lewat event Mataram Jazz&World Music Festival 2018, kolaborasi musisi jazz nasional dan lokal ini Pemkot Mataram ingin menghibur para relawan, warga Kota Mataram, dan para pecinta musik jazz pada khususnya.

"Lokasi di Taman Kota Sangkareang, agar memudahkan seluruh masyarakat hadir menyaksikan event yang dihajatkan sebagai bagian kampanye "MoveOn" setelah Lombok didera bencana gempa," kata Mohan.

Mohan mengatakan, Gempa yang terjadi sejak 29 Juli hingga 19 Augustus lalu berdampak juga bagi Kota Mataram.

Selain mengakibatkan kerusakan rumah, kantor, dan fasilitas lainnya, masyarakat juga mengalami trauma panjang.

Sebulan setelah gempa warga Kota Mataram masih tidur di tenda pengungsian.

"Teman-teman sudah tahu dan merasakan sendiri bagaimana kondisi saat itu," kata Mohan.

Pemerintah Kota Mataram pun mengkampanyekan "Mataram Move On" dalam event Jazz tersebut.

Tujuannya, agar masyarakat yang masih trauma bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Kantor kembali normal, sekolah kembali aktif, dan perekonomian kembali pulih.

Menurutnya, Mataram Jazz& World Music Festival 2018 ini merupakan kelanjutan dari berbagai program untuk pemulihan pasca gempa di Kota Mataram.

Festival ini juga menjadi ajang reuni bagi para relawan, pegiat kemanusiaan, dan semua pihak yang terlibat sejak awal gempa hingga pemulihan pasca gempa.

"Relawan, TNI, Polri, BNPB, BPBD, lembaga kemanusiaan, dan semua yang terlibat sejak awal gempa rasanya perlu kita kumpul bersama dalam suasana santai. Nah event inilah yang menjadi ajang kita kumpul bersama," katanya.

Beberapa pertemuan semua relawan dan pihak yang terlibat dalam penanganan gempa sudah beberapa kali bertemu.

Tapi pertemuan itu dalam suasana formal. Pertemuan itu banyak membahas langkah-langkah penanganan pasca gempa.

Mohan menginginkan, pertemuan kali ini dalam suasana santai.

Pertemuan ini lebih banyak mendengar cerita para relawan di lapangan.

Pertemuan ini juga mempertemukan para korban gempa dan para relawan.

"Kita silaturahmi, ngobrol santai sambil menikmati hidangan musik jazz," kata Mohan. K18/*