Perang Topat di Lombok Barat, Cara Leluhur Merawat Harmoni dalam Keberagaman

Advertisement

Perang Topat di Lombok Barat, Cara Leluhur Merawat Harmoni dalam Keberagaman

KATAKNEWS.com
Jumat, 23 November 2018

PERANG TOPAT. Bupati Lombok Barat, H Fauzan Khalid, anggota DPD RI, Baiq Diyah Rayu Ganefi (Jilbab Orange), dan Deputi Kemenpar RI Ni Wayan Giri Adnyani, menghadiri seremoni Perang Topat, Kamis sore (22/11) di Pura Lingsar, Lombok Barat.(KATAKNEWS/Istimewa)   


LOMBOK BARAT, KATAKNEWS.com - Ratusan masyarakat berbeda suku dan agama, terlibat Perang Topat, Kamis sore (22/11), di kompleks Pura Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. Ritual budaya yang mentradisi sejak leluhur dulu, menjadi simbol harmonisasi dan kerukunan antar etnis dan umat beragama.

Tahun ini, tradisi masyarakat agraris tersebut, juga menjadi momentum semangat bangkit bagi sektor pariwisata di Lombok Barat.

"Perang Topat ini membuktikan bahwa sejak dulu kita semua rukun. Masyarakat Lombok Barat tidak pernah berkoar- koar tentang kebhinnekaan, tapi masyarakatnya secara nyata dan aplikatif mempraktekan nilai-nilai kebhinekaan tersebut sejak dulu," kata Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid, saat membuka seremoni Perang Topat.

Fauzan mengatakan, event budaya Perang Topat sudah dilakukan turun temurun di Pura Lingsar, menjadi pelajaran dari para leluhur tentang bagaimana menjaga toleransi dan silaturahmi di antara dua suku dan agama di Lombok Barat.

Anggota DPD RI, Baiq Diyah Rayu Ganefi mengatakan, tradisi Perang Topat ini mengingatkan kita semua tentang bagaimana leluhur bangsa ini mengajarkan keberagaman.

Menurutnya, Perang Topat mengandung banyak nilai baik. Ada kekuatan dua religi di situ sekaligus budaya. Semuanya mengajarkan keseimbangan dan harmoni.

"Lebih luas lagi, Perang Topat ini mengajarkan besarnya nilai toleransi antar umat beragama. Sehingga tradisi ini memang harus tetap dilestarikan. Selain contoh dari para leluhur kita tentang kerukunan beragama, bermasyarakat, bertoleransi juga untuk kesuburan dari pertanian yang ada," katanya.

Baiq Diyah mengatakan, tahun-tahun mendatang DPD RI akan mengupayakan agar event Perang Topat bisa diselenggarakan dengan konteks yang lebih menasional. Selain untuk mempromosikan wisata budaya Lombok, juga agar perhatian pemerintah pusat bisa lebih maksimal.

Sementara itu, Deputi Bidang Pemasaran I Kementerian Pariwisata Ni Wayan Giri Adnyani, mengatakan event Perang Topat bisa menjadi momentum bangkit Pariwisata Lombok Barat, pasca gempa bumi.

“Pariwisata NTB ini terus berdenyut. Ada banyak event yang digelar di sana. Perang Topat ini menjadi media terbaik yang menggambarkan NTB sudah pulih. Pariwisatanya pulih secara menyeluruh setelah terkena bencana beberapa waktu lalu,” katanya.

Perang Tanpa Kebencian 

Perang Topat, atau perang ketupat (penganan dari nasi dibungkus anyaman janur) merupakan ritual budaya yang selalu dilakukan masyarakat di Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, setiap tahun melibatkan masyarakat beragama Hindu dan Islam.

Meski judulnya "Perang" tapi Perang Topat jauh dari kesan menyeramkan. Yang ada justru suasana akrab yang tanpa kebencian. Suasana perang, selalu ramai dengan teriakan kegembiraan dan canda tawa.

Sejak pagi, masyarakat bersama-sama menyiapkan Topat sebagai amunisi perang. Mereka juga yang terlibat perang, dengan saling melemparkan ketupat ke arah masing-masing.

Perang Topat ini mungkin satu-satunya Perang yang penuh kegembiraan. Tidak ada korban, tapi justru mempererat persaudaraan. Semua prosesnya melibatkan masyarakat berbeda suku dan agama, ada Bali-Hindu dan Sasak-Islam.

Ritual budaya Perang Topat tak lepas dari keberadaan kompleks Pura Lingsar, di Desa Lingsar yang berjarak sekitar 6 Km arah Tenggara dari Kota Mataram, ibukota NTB.

Berdasarkan sejarah, Kompleks Pura Lingsar dibangun pada tahun 1759 pada zaman Raja Anak Agung Gede Ngurah, keturunan Raja Karangasem-Bali yang sempat menguasai sebagian pulau Lombok pada abad ke 17 silam.

Kompleks Pura Lingsar bisa dibilang bangunan Pura paling unik se-Nusantara. Sebab, di dalam kompleks itu terdapat dua bangunan besar yakni Pura Gaduh sebagai tempat persembahyangan umat Hindu, dan bangunan Kemaliq yang disakralkan sebagian umat muslim Sasak dan masih digunakan untuk upacara-upacara ritual adat hingga kini.

Pura Gaduh dan Kemaliq, menjadi dua bangunan yang mengikat tali silahturahmi dan kebersamaan antara masyarakat beda suku dan agama. Salah satunya lewat tradisi Perang Topat.

Pelaksanaan Perang Topat selalu mengacu pada hari ke 15 bulan ke tujuh pada penanggalan Sasak-Lombok, yang disebut purnama Sasih Kepitu (Purnama Ketujuh), atau hari ke 15 bulan ke enam pada penanggalan Hindu-Bali yang disebut purnama Sasi Kenem (Purnama Keenam).

Tahun 2018 ini, jatuh pada malam Purnama, Kamis (22/11) 2018 pada penanggalan Masehi.

Budayawan Sasak yang juga pengurus Kemaliq Lingsar, Suparman Taufik menjelaskan, makna seluruh prosesi Perang Topat adalah pengungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas rejeki yang diberikan sepanjang tahun ini.

Hal ini tak lepas dari keberadaan mata air Langser yang kini disebut Lingsar, yang terletak di samping kompleks Pura Lingsar.

Menurutnya, secara turun-temurun, masyarakat Lingsar percaya mata air itu berasal dari bekas tancapan tongkat Raden Mas Sumilir, tokoh penyiar Islam di Lombok abad ke 15.

Napaktilas pun dilakukan untuk mengenang jasa penyiar Islam, Raden Sumilir yang dipercaya merupakan penyiar Islam dari Demak, pulau Jawa.

Hingga kini mata air itu mampu mengairi pertanian bukan hanya di Lingsar saja tetapi juga  hingga ke sebagian wilayah Lombok Tengah. Petani di Lingsar bahkan bisa menanam dan menanen padi hingga tiga musim dalam setahun.

"Bentuk ungkapan kesyukuran inilah yang kita sampaikan dalam Perang Topat untuk menapaktilas dan mengenang Raden Sumilir," katanya.

Sementara bagi Umat Hindu, Perang Topat dilakukan bersamaan dengan peringatan ulang tahun Pura. Setelah perang topat selesai, malam harinya umat Hindu melakukan upacara Pujawali di Pura Gaduh untuk menghormati Batara Gunung Rinjani, Batara Gunung Agung, dan Batara Lingsar, yang dipercaya sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.

"Mungkin hanya di Lingsar ini bisa ditemukan pelaksanaan acara besar umat Hindu dan umat Muslim, yang dilakukan pada waktu dan tempat bersamaan. Meski pun versi kita beda,” kata Suparman Taufik.

Pelaksanaan Perang Topat dimulai saat Rarak Kembang Waru atau mulai gugurnya bunga waru, itu sekitar pukul 17.00 Wita. Namun sejak siang, masyarakat sudah memenuhi Komples Pura Lingsar.

Sebelum perang dimulai, proses ritual dilakukan bersamaan dengan atraksi seni dan budaya yang disuguhkan kepada para wisatawan dan tamu undangan yang hadir.

Rangkaian prosesi ritual Perang Topat dilakukan bersama-sama dan saling menghargai masing-masing agama. Masyarakat muslim bersama pengurus Kemaliq menyiapkan Ketupat dan beragam hasil bumi di tempat Pemangku Kemaliq, sedangkan umat Hindu juga melakukannya di tempat berbeda.

Hewan ternak yang dipilih dalam ritual adalah Kerbau. Hal ini untuk menghindari penggunaan Sapi yang dianggap sakral oleh Umat Hindu, dan Babi yang haram dan dilarang dalam Islam.

Seluruh hasil bumi dan topat yang sudah dikumpulkan dan sudah melalui proses ritual, akan dibagikan kepada masyarakat yang datang.

Topat yang sudah siap kemudian dileparkan pertama kali oleh Bupati Lombok Barat, H Fauzan Khalid sebagai penanda perang bisa dimulai. Anggota DPD RI Baiq Diyah Ratu Ganefi dan sejumlah pejabat undangan turut melempar Topat pembuka.

Dan, Perang Topat pun dimulai.

Ratusan masyarakat, pria dan wanita, tua dan muda, langsung berebutan mendapatkan topat dan saling melempar. Jauh dari kesan kekerasan, Perang Topat di Pura Lingsar justru penuh kegembiraan. Masyarakat berbaur, perbedaan agama dan suku seperti kehilangan batas.

Masyarakat setempat percaya, topat atau ketupat sisa perang akan membawa kerejekian atau kesuburan sawah jika dibawa pulang dan ditanam.

"Turun temurun selalu begini, kalau dapat topat berarti lancar rejeki. Kalau petani ya bisa ditanam topatnya di sawah supaya subur hasil panen, kalau pedagang ya bisa ditaruh di tempat dagangan biar laris,"kata Maya Astini, warga Lingsar yang ikut perang topat. K18/*