Kisah Inspiratif Rosyidin, Pria Putus Sekolah yang Mendedikasikan Diri Membangun Rumah Baca di Sembalun Lombok (2)

Advertisement

Kisah Inspiratif Rosyidin, Pria Putus Sekolah yang Mendedikasikan Diri Membangun Rumah Baca di Sembalun Lombok (2)

Redaksi KATAKNEWS
Jumat, 30 November 2018

LOMBOK LOVE LIBRARY. Rosyidin dan sekelompok mahasiswa asal Yogyakarta yang menyumbangkan buku-buku bacaan di rumah baca Lombok Love Library, tahun lalu.(KATAKNEWS/Foto: Dok. Rosyidin Sembahulun) 


LOMBOK TIMUR, KATAKNEWS.com - Putus sekolah tak membuat Rosyidin patah arang.

Bagi Rosyidin, ilmu berada di alam semesta, di mana saja.
Yang terpenting adalah kemauan dan tekat untuk terus belajar dan belajar. Salah satu caranya, dengan banyak membaca.

"Saat itu saya bikin perpustakaan kecil di rumah (orangtua). Jadi anak-anak yang putus sekolah bisa meluangkan waktu membaca buku-buku koleksi saya," katanya.
Hobi membaca dan ingin berbagi yang ditunjukan Rosyidin, mendapat dukungan kedua orang tuanya,  Amaq Mersait dan Inaq Rumendih.
Sambil menyediakan buku-buku bacaan, Rosyidin juga mengasah kemampuannya menulis secara otodidak.

Sembalun yang menjadi salah satu pintu masuk ke jalur pendakian Gunung Rinjani, membuat aktivitas Rosyidin saat itu menjadi perhatian wisatawan yang datang.

Hingga pada akhirnya di tahun 2014, melalui kelompok wisatawan asal Singapura yang mendaki Rinjani, Rosyidin pun bisa terhubung dengan salah satu Universitas di Singapura, Ngg Ann Polytechnic Singapura.

"Universitas itu kemudian membantu saya membiayayi membangun rumah baca Lombok Love Library ini di tahun 2014, lokasinya di lahan milik ayah saya," katanya.

Namun, bantuan dari Singapura, hanya untuk membangun Rumah Baca. Selebihnya, untuk operasional, Rosyidin harus berswadaya.

Berkat Rumah Baca ini juga, Rosyidin yang punya bakat menulis akhirnya diterima bekerja sebagai reporter di salah satu surat kabar terbitan Lombok Timur.

Hingga kini, rumah baca ini menjadi tempat berkumpul anak-anak SD dan SMP yang meluangkan waktu untuk membaca buku, sepulang sekolah.


Mereka juga belajar mengaji, dan terkadang Rosyidin membagikan dongeng-dongeng sasak yang bermuatan kearifan lokal zaman dulu.

Setiap Jumat, sekelompok anak SD biasa dibawa guru kelasnya ke Rumah Baca itu.

"Untuk kegiatan ekstrakulikuler, biasanya anak-anak SD dibawa gurunya kemari," katanya.

Perhatian Pemda Masih Kurang

Semangat Rosyidin agar anak-anak gemar membaca sangat luar biasa. Sayangnya, koleksi buku di Rumah Baca masih sangat kurang.

Saat ini koleksi buku yang tersedia hanya sekitar 200 judul. Dan, biasa dibilang hampir semua sudah pernah dibaca.

Tahun 2015 lalu, Rosyidin pernah mengusulkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur untuk dibantu tambahan buku.

"Dinas minta kami bikin proposal. Tapi setelah kami ajukan lagi, mereka minta proposalnya diulang dan terus begitu. Sampai sekarang bantuan itu tak pernah terealisasi," katanya.

Ia berharap ada pihak yang turut peduli. Siapa saja yang tergerak hati bisa menyumbangkan buku-buku ke Rumah Baca ini.
Secara umum, aktivitas masyarakat di Desa Sembalun Lawang, di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Kamis (29/11), nampak sudah berangsur normal, meski sisa-sisa bencana gempa bumi yang melanda kawasan itu Juli-Agustus lalu masih nampak dan jelas terasa.

Masyarakat yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani hortikultura, nampak sibuk di lahan mereka. Anak-anak sekolah pun sudah beraktivitas seperti biasa, meski beberapa sekolah masih dalam bangunan darurat.

Seperti bantuan buku yang sulit didapat, Rosyidin dan Rumah Baca Lombok Love Library miliknya, juga menjadi saksi bagaimana bantuan untuk mengembalikan kondisi Sembalun pasca gempa, berjalan cukup lamban.

"Kalau soal (bencana) gempa, bantuan juga seperti tak tepat sasaran. Misalnya saja kompleks hunian sementara (Huntara) yang dibangun BUMN, itu sebagian besar tak terpakai, jadi mubazir," kata dia. K18