Kisah Inspiratif Rosyidin, Pria Putus Sekolah yang Mendedikasikan Diri Membangun Rumah Baca di Sembalun Lombok

Advertisement

Kisah Inspiratif Rosyidin, Pria Putus Sekolah yang Mendedikasikan Diri Membangun Rumah Baca di Sembalun Lombok

Redaksi KATAKNEWS
Kamis, 29 November 2018

RUMAH BACA. Rosyidin Sembahulun bersama anak-anak di Rumah Baca Lombok Love Library, Sembalun, Lombok Timur.(KATAKNEWS/Bara Elank)


LOMBOK TIMUR, KATAKNEWS.com - Rosyidin sibuk membenahi buku-buku bacaan yang tercecer di lantai. Satu-persatu di susunnya kembali ke rak-rak kayu sederhana.

Beberapa anak usia SD turut membantunya, sebelum mereka berpamitan untuk pulang, sambil mengucap salam pada Rosyidin.

"Ya beginilah keadaannya mas, anak-anak nggak bisa disiplin kalau nggak kita tunjukan caranya," kata Rosyidin, kepada Bara Elank, reporter KATAKNEWS.com, Rabu sore (28/11)di Rumah Baca Lombok Love Library, Desa Sembalun Lawang, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, NTB.

Secangkir Kopi khas Sembalun tersaji panas ditemani enam potong pisang goreng hangat.

Sambil mempromosikan cita rasa khas Kopi Liberica Sembalun, Rosyidin pun mulai mengupas cerita.

Rumah Baca Lombok Love Library didirikan Rosyidin sejak 2014 silam, di lahan milik orangtuanya di Dusun Baret, Desa Sembalun Lawang.

Rumah baca nampak sederhana. Terbuat dari kayu dengan konsep rumah panggung, hanya seukuran 4 kali enam meter persegi.

Di tempat sederhana ini Rosyidin selalu membagi waktu bersama anak-anak. Puluhan anak-anak Desa Sembalun Lawang, dan desa tetangga selalu datang sepulang sekolah, hingga menjelang petang.

"Kegiatannya ya belajar mengaji, dan mereka baca-baca buku di sini. Dari pada waktu mereka terbuang untuk main-main, atau main gadget, kan lebih baik begini," kata Rosyidin.

Meski bangunan terkesan sederhana, namun Rumah Baca Lombok Love Library tahan gempa, dan menjadi bagian dari sangat sedikit bangunan yang tak hancur dihantam gempa beruntun Juli-Agustus di Lombok.

Hal ini juga yang membuat anak-anak semakin banyak yang datang ke Rumah Baca, pasca gempa bumi melantakkan sebagian besar bangunan di Kecamatan Sembalun.

"Bisa dibilang trauma healing juga. Dengan sibuk membaca, mereka bisa melupakan ketakutan akan gempa bumi. Apalagi pasca gempa besar itu masih banyak gempa susulannya," kata Rosyidin.

Putus Sekolah dan Wiro Sableng

Tak ada yang istimewa dari sosok Rosyidin Sembahulun, atau lebih dikenal dengan sapaan Bang DJ (Baca: Dije).

Rambutnya dibiarkan gondrong dan penampilannya pun tidak rapi-rapi amat.

"Iya mungkin terinspirasi Wiro Sableng. Penampilannya kan selow, santai, tapi lebih banyak berbuat (Kebajikan) untuk rakyat," selorohnya.


Tokoh Wiro Sableng di serial novel silat karya Bastian Tito era 1980-1990 an memang banyak menginspirasi Rosyidin yang akhirnya membangun Rumah Baca.
Komik silat Wiro Sableng menjadi bacaan sehari-hari Rosyidin remaja. Koleksinya pun lengkap.

Selain serial Wiro Sableng, Rosyidin juga selalu melahap buku-buku pengetahuan umum, dan buku-buka agama milik orangtuanya.

Tahun 1994, Rosyidin yang bernasib kurang beruntung, tak bisa melanjutkan sekolahnya, dari SMP ke jenjang lebih tinggi SMA.

Sempat dua tahun di SMA di pusat ibukota Lombok Timur, yang jaraknya sangat jauh dari Sembalun, jejang pendidikan Rosyidin pun kandas.

"Selain kelas di sekolah sering libur. Saya juga tak cukup biaya untuk terus melanjutkan SMA," kenangnya.

Meski tak lagi mengenyam pendidikan formal saat itu, kegemaran Rosyidin membaca tidak lantas pudar.

Bagi Rosyidin, ilmu berada di alam semesta, di mana saja. Yang terpenting adalah kemauan dan tekat untuk terus belajar dan belajar. Salah satu caranya, dengan banyak membaca.

Apalagi, saat itu bukan hanya Rosyidin yang putus sekolah.
Kondisi pertanian di Sembalun yang tadinya sedang jaya-jayanya dengan produksi Bawang Putih, kolaps dihantam terjunnya harga.

"Banyak anak yang putus sekolah. Yang tadinya kaya, banyak yang bangkrut karena krisis ekonomi, harga bawang anjlok," kenangnya. K18 (Bersambung)

Penulis : Bara Elank
Editor : Panca Nugraha