Jubir Prabowo-Sandi : Pariwisata Halal Bisa Jadi Solusi Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi

Advertisement

Jubir Prabowo-Sandi : Pariwisata Halal Bisa Jadi Solusi Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi

Redaksi KATAKNEWS
Selasa, 16 Oktober 2018

PARIWISATA HALAL. Juru Bicara Tim Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Taufan Rahmadi, dalam sebuah kesempatan pemaparan tentang konsep pariwisata halal.(KATAKNEWS/Foto:dok. Bara Elank)

JAKARTA - Pengembangan konsep pariwisata halal atau halal tourism di Indonesia akan menjadi salah satu fokus utama pasangan Capres-Cawapres, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi).

Pasangan Capres-Cawapres nomor urut 2 ini menilai pengembangan pariwisata halal bisa mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi, serapan tenaga kerja di sektor wisata, termasuk menjadi penyumbang devisa negara.

"Seperti bisa dilihat dalam visi-misi Prabowo-Sandi yang juga diunggah oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di laman resminya, itu mencantumkan pengembangan wisata halal. Rencana tersebut tercantum dalam visi misi berjudul Empat Pilar Menyejahterakan Indonesia Adil Makmur bersama Prabowo-Sand," kata Juru bicara Tim Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Taufan Rahmadi, Selasa (16/10) di Jakarta.

Ia menjelaskan tekad Prabowo-Sandi menjadikan Indonesia sebagai pusat tujuan wisata halal dunia secara eksplisit tercantum dalam bagian Program Aksi Ekonomi poin 19.

"Menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan ekonomi syariah, industri kreatif muslimah, dan tujuan wisata halal dunia," katanya.

Baca Juga : Usung Jargon Temannya Wisatawan, Taufan Rahmadi Bertekad Majukan Pariwisata

Dijelaskan, Program Aksi Ekonomi poin 19 itu merupakan penjabaran dari bagian Pilar Ekonomi poin 7. Pada butir tersebut dijelaskan bahwa Prabowo-Sandi bertekad menciptakan sumber-sumber pertumbuhan baru, termasuk pariwisata, ekonomi kreatif, ekonomi digital, startup, industri syariah, dan maritim.

Jubir Prabowo Sandi, Taufan Rahmadi mengatakan, hal ini tentu disambut dengan baik. Sebab, pariwisata halal dan industri syari'ah ini adalah upaya untuk merebut pangsa pasar wisatawan muslim yang ada di dunia.

"Hal ini akan berdampak positif dan Indonesia perlu merebut segmentasi ini di dunia, hal ini dapat menjadi solusi bukan hanya untuk pariwisata saja, ini akan menghadirkan "Efek Domino" yang bermuara pada peningkatan dan perbaikan perekonomian Indonesia," kata Taufan Rahmadi.

Pria energik yang juga merupakan penggagas konsep pariwisata halal di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menjelaskan, berdasarkan data Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index 2017 (GMTI 2017), pariwisata global merilis sekitar 121 juta wisatawan muslim internasional pada 2016.

Angka tersebut diproyeksikan tumbuh menjadi 156 juta pada 2020. Dan, pengeluaran perjalanan segmen ini diperkirakan mencapai 300 miliar dolar AS pada 2026.

"Dan yang terbaru, berdasarkan riset sekaligus penilaian dari Global Muslim Travel Index (GMTI) yang dirilis oleh Mastercard-CrescentRating, Indonesia masuk peringkat kedua sebagai tujuan wisata muslim dunia pada 2018," katanya.

Posisi itu, tambah Taufan, meningkat dari tahun 2017 yang masih menempati rangking tiga. Sementara pada posisi pertama masih diduduki oleh Malaysia. Malaysia mendapat skor 80,6, Indonesia memiliki kedudukan yang sama dengan United Arab Emirates memiliki skor 72,8. Selanjutnya Turki berada di peringkat empat dengan skor 69,1. Lalu Arab Saudi menyusul pada peringkat lima yang skornya mencapai 68,7

Pasar yang gemuk ini dipengaruhi pertumbuhan demografi muslim yang diprediksi lebih dari dua kali lebih cepat dari populasi dunia antara 2015 dan 2060.

Dalam beberapa dekade mendatang, populasi dunia diproyeksikan tumbuh 32 persen, dan jumlah umat Islam diperkirakan meningkat 70 persen—dari 1,8 miliar pada 2015 menjadi hampir 3 miliar pada 2026.

Taufan menjelaskan, peluang pertumbuhan ekonomi akan lebih terpacu jika Indonesia mengembangkan pariwisata halal.

"Ketika para wisatawan muslim datang ke Indonesia, tentunya mereka akan membelanjakan uangnya di Indonesia, dan ini sangat positif bagi perekonomian dalam negeri kita, dan juga menyumbang devisa negara," tukas mantan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB) ini.

Selain itu, menurut Taufan Indonesia bukanlah negara baru dalam pengembangan wisata halal ini, di tahun 2015 Indonesia pernah meraih penghargaan dunia Wisata Halal.

"Pada Tahun 2015 Lombok pernah menjadi salah satu yang terbaik di dunia dan mendapatkan 2 penghargaan dari dunia, yaitu "The World Best Halal Destination" dan "The World Best Halal Honeymoon Destination", ini modal yang luar biasa untuk Indonesia ke depan," ujar mantan anggota Tim 10 Percepatan Pembangunan Destinasi Wisata Kemenpar ini. K18