Bangun Rumah Terbalik, Cara Kreatif Korban Gempa di Lombok Barat untuk Bangkit Kembali

Advertisement

Bangun Rumah Terbalik, Cara Kreatif Korban Gempa di Lombok Barat untuk Bangkit Kembali

Redaksi KATAKNEWS
Senin, 15 Oktober 2018

RUMAH SUJUD. Sukarno (Kaos Merah) tengah memperhatikan pembangunan rumah terbalik di lokasi bekas rumahnya yang rusak berat akibat gempa bumi, di Desa Bug-Bug, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.(KATAKNEWS/Bara Elank)

LOMBOK BARAT - Sukarno (44), seorang warga korban gempa bumi di Desa Bug-Bug, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, secara swadaya membangun kembali rumahnya yang rusak berat dengan konsep rumah terbalik yang diberi nama rumah sujud.

Selain sebagai aksi protes terhadap lambatnya bantuan, konsep rumah sujud yang dibangun akan dijadikan semacam musium mini gempa Lombok, dan juga diharapkan memberi nilai tambah bagi perekonomian masyarakat desa Bug-Bug.

"Harapannya, siapa saja yang berkunjung ke sini masi bisa melihat bagaimana kondisi ketika gempa bumi melanda Lombok ini," kata Sukarno, Senin sore (15/10) di Desa Bug-Bug, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, NTB.

Sukarno yang sehari-hari bertugas sebagai perawat di Puskesmas Lingsar, mengaku sempat mengalami mengungsi selama dua bulan karena rumahnya rusak berat akibat gempa bumi 6.4 M pada Kamis 5 Agustus 2018 lalu.

Bersama rumahnya, sekitar 215 rumah warga lainnya di Desa Bug-Bug juga rusak berat.

Pria yang juga senang melakukan pendakian ke Gunung Rinjani ini, mengaku mendapat ide membuat rumah sujud, sebagai ungkapan kesyukuran kepada Allah SWT, Tuhan yang maha esa, karena meski rumahnya rusak berat namun ia masih bisa selamat.

"Saya juga sering mendaki Rinjani dan merasa sedih karena pendakian di sana ditutup. Pasti masyarakat susah penghidupannya apalagi yang berprofesi porter dan guide," katanya.

Menurutnya, ide rumah sujud ini muncul setelah cukup lama berada di pengungsian, dan bantuan pemerintah tak jelas kabarnya.

"Saya sendiri tidak masuk data penerima bantuan, meski rumah saya rusak berat," sesalnya.

Bersama rekan sesama pencinta Gunung Rinjani, Sukarno kemudian mendesain sendiri rumah sujud di areal seluar 6 x 5 meter di sisa bangunan rumahnya.

Rumah sujud yang dibangun dengan kerangka baja ringan dan dinding kalsi board itu, menurutnya akan dijadikan musium mini gempa Lombok, sekaligus spot selfie di Desanya.

"Biayanya dari tabungan sendiri, karena memang saya termasuk salah satu korban rumah rusak berat namun tidak terdata sebagai penerima bantuan. Saya berupaya bangkit sendiri dan memberikan manfaat buat para tetangga di Desa ini," katanya.

Sukarno mengatakan, kalau saja pemerintah bisa membangunkan rumah korban gempa Lombok dengan konsep yang unik seperti rumah sujud miliknya, tentu akan menambah daya tarik wisata dan bisa menjadi potensi penghasilan masyarakat Desa terdampak.

"Ya namanya rumah sujud, artinya rumah kami sangat mencintai ibu pertiwi. Saya jadi berpikir bahwa akan selalu ada hikmah di setiap bencana ini, dan itu yang ingin saya tularkan ke masyarakat di sini. Kita jangan sampai menyerah dengan keadaan, sesulit apapun," katanya.

Saat ini pembangunan rumah sujud ala Sukarno sudah tuntas sekitar 60 persen sejak dikerjakan dua pekan lalu.

Ia memperkirakan rumah akan selesai paling lama dua pekan ke depan.

Donasi Untuk Sulteng

Sukarno mengatakan, acara launching Rumah Sujud miliknya akan mengundang relasinya sesama pencinta alam dan komunitas pendaki Gunung Rinjani.

Kegiatan itu juga akan diisi dengan penggalangan donasi untuk korban gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

"Jadi akan ada donasi dari korban gempa di Lombok untuk saudara kita di Sulteng," katanya.K18