40 Unit Huntap Dikerjakan di Lombok Barat, Ketersediaan Bahan Risha jadi Kendala

Advertisement

40 Unit Huntap Dikerjakan di Lombok Barat, Ketersediaan Bahan Risha jadi Kendala

Redaksi KATAKNEWS
Selasa, 09 Oktober 2018

HUNIAN SEMENTARA. Sejumlah warga menempati hunian sementara (Huntara) di Desa Guntur Macan, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Masih dibutuhkan banyak Huntara untuk korban gempa di Lombok Barat.(KATAKNEWS/Bara Elank)
LOMBOK BARAT - Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid mengatakan, jumlah total rumah rusak akibat gempa di Lombok Barat mencapai 72 ribu lebih, di mana 14 ribu diantaranya tergolong rusak berat.

Menurutnya, hingga saat ini yang sudah menerima bantuan stimulan pemerintah baru sekitar 359 keluarga. Dari jumlah itu yang sudah menerima bantuan stimulan Rp50 juta dan Rp25 juta di Kabupaten Lombok Barat, saat ini sebanyak 40 rumah sudah mulai dikerjakan.

"Dari 359 yang sudah terima bantuan itu sudah dibentuk semua Pokmasnya, tapi memang yang mulai membangun baru sekitar 40 keluarga. Problemnya juga adalah ketersediaan bahan untuk membangun Risha (Rumah Instant Sederhana Sehat), ini yang masih ditunggu," kata Fauzan, di sela kunjungan ke Desa Guntur Macan, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat.

Menurut Fauzan, Risha nyatanya lebih mirip industri rumahan, sehingga Pemda kini berinisiatif membuat prototipe rumah tahan gempa yang sekarang sedang digarap Dinas PU Lombok Barat.

"Kita Prototipe bangunan dengan biaya Rp50 juga dengan asumsi tahan gempa, nanti akan dikonsultasikan ke BNPB juga. Nah kalau ini disetujui maka proses pembangunan bisa lebih cepat karena bahannya bisa kita sediakan di daerah," katanya.

Hal lain yang masih menghambat proses rehabilitas dan rekonstruksi pasca bencana, adalah belum cairnya seluruh bantuan stimulan untuk korban gempa yang rumahnya rusak.

Fauzan mengatakan, pihaknya selesai menyusun dan menyerahkan rencana aksi yang didalamnya juga termasuk SK tentang verifikasi jumlah rumah rusak, sejak dua pekan lalu. Draft rencana aksi juga sudah diuji publik selama 10 hari, untuk mengantisipasi jika ada warga yang rumahnya rusak namun belum masuk data.

"Semua sudah kita lakukan, dan sekarang kita masih menunggu (dana stimulan)," katanya.

Ia menjelaskan, meski cenderung menurun, saat ini jumlah pengungsi korban gempa masih berkisar 50 ribu jiwa tersebar di empat Kecamatan terdampak di Lombok Barat.

"Saat ini kita baru bisa bikin huntara sekitar 3 ribu dari kebutuhan total 14 ribu. Kita harap banyak pihak ikut bantu bangun huntara ini. Kemarin dari PMI akan bangun 4 ribu dan Samsung mau bantu juga. Ya mudah-mudahan sebelum hujan huntara sudah terbangun," katanya.

Butuh Bantuan Huntara

Kebutuhan huntara untuk pengungsi korban gempa di NTB memang cukup mendesak. Di Desa Guntur Macan, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat misalnya, dari total penduduk sebanyak 905 keluarga terdiri dari 2.811 jiwa, hampir 95 persen rumahnya rusak berat. Hingga kini sebagian besar masyarakat di sana masih tinggal di pengungsian, dan sebagian di huntara yang jumlahnya masih terbatas.

Kepala Desa Guntur Macan, H Murni mengatakan, ada bantuan dari BUMN sebanyak 150 unit huntara, yang kini dimanfaatkan oleh sekitar 350 keluarga di sana, sisanya masih di pengungsian, ada juga yang bertahan membangun tenda di sisa rumah yang rusak.

"Kita dapat 150 huntara dari BUMN, dan itu terpaksa sekali satu unit dipakai untuk 2 keluarga, yang penting bisa berteduh kalau hujan. Kita masih butuh sekitar 600 unit huntara lagi, kalau bisa pemerintah bantu," katanya.

Murni juga mengharapkan bantuan tanggap darurat masih bisa disalurkan untuk warga. Sebab, mesi saat ioni dalam tahap pemulihan, masyarakat di Guntur Macan rata-rata belum bisa beraktivitas dengan normal.

"Kami masih butuh bantuan sembako dan lainnya. Sekarang ini sudah sebulan bantuan menurun sekali, padahal masyarakat masih sangat membutuhkan," katanya. K24