Tiga Pekan Masa Transisi, 445 Ribu Warga NTB Masih Hidup di Pengungsian

Advertisement

Tiga Pekan Masa Transisi, 445 Ribu Warga NTB Masih Hidup di Pengungsian

Redaksi KATAKNEWS
Minggu, 16 September 2018


TABULASI DATA. Data Pos Kogasgabpad PDB Gempa NTB per 14 September 2018.(KATAKNEWS/Istimewa)


MATARAM - Masa Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Gempa Bumi di Nusa Tenggara Barat (NTB) bakal berjalan panjang.

Selain harus memproses pembersihan puing dan pembangunan kembali rumah masyarakat yang rusak akibat gempa, gelombang pengungsi akibat gempa bumi juga masih tinggi.

Pertengahan September ini akan menjadi akhir pekan ke tiga  setelah masa transisi dari tahap tanggap darurat menuju tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi pasca bencana.

Surat Keputusan (SK) Gubernur NTB tentang masa transisi berlaku sejak 26 Agustus hingga 17 September 2018.

Toh, hingga Sabtu (15/9), data yang tercatat di Pos Komando Tugas Gabungan Terpadu (Poskogasgabpad) Penanggulangan Dampak Bencana (PDB) Gempa NTB menyebutkan, jumlah pengungsi korban gempa bumi di NTB tercatat sebanyak 445.343 jiwa.

Sebuah jumlah yang hampir sama banyaknya dengan jumlah penduduk Kota Mataram yang tercatat dalam BPS sebanyak 468.509 jiwa.

"Data terakhir yang masuk ke Poskogasgabpad, jumlah pengungsi masih berkisar 445.343 jiwa," kata Perwira Penerangan Poskogasgabpad, Mayor Inf Suwandi, Sabtu (15/9) di Mataram.

Dari data itu, papar Suwandi, 445.343 jiwa pengungsi korban gempa itu tersebar di Kota Mataram (18.894 jiwa), Lombok Utara (101.735 jiwa), Lombok Barat (116.453 jiwa), Lombok Timur (104.060 jiwa), Lombok Tengah (13.887 jiwa), Sumbawa (49.188 jiwa) dan Sumbawa Barat (41.126 jiwa).

Soal jumlah pengungsi yang masih tinggi, juga diamini Bupati Lombok Barat, Fauzan Khalid.

Di Lombok Barat, setidaknya tercatat sebanyak 116 ribu pengungsi di empat Kecamatan terdampak parah antara lain Batulayar, Gunungsari, Lingsar dan Narmada.

"Jumlah pengungsi masih banyak. Meski kita cuma terdampak empat Kecamatan tapi jumlah rusak dan pengungsinya lebih banyak dibanding Lombok Utara," katanya.

Fauzan mengatakan,  jumlah pengungsi Lombok Barat cukup tinggi karena banyak juga warga yang rumahnya tidak rusak tapi turut mengungsi karena khawatir gempa susulan.

"Pengungsi sempat berkurang. Tapi pas ada gempa susulan, kembali lagi. Kita nggak bisa melarang orang takut kan?," katanya.

Untuk kebutuhan logistik pengungsi, Pemda Lombok Barat harus berjibaku juga sampai saat ini.

Sementara di sisi lain Pemda juga melakukan proses verifikasi terhadap rumah warga yang rusak akibat gempa.

Menurut dia, jumlah rumah yang rusak di Lombok Barat tercatat 55.497 unit. Dari jumlah itu sebanyak sekitar 9.500 an tergolong rusak berat. K24