Ikatan Alumni SMKN 26 Pembangunan Jakarta Bantu Tenda dan Matras untuk Penanganan TB di Lombok Barat

Advertisement

Ikatan Alumni SMKN 26 Pembangunan Jakarta Bantu Tenda dan Matras untuk Penanganan TB di Lombok Barat

Redaksi KATAKNEWS
Senin, 24 September 2018

KATAKNEWS/Istimewa

TENDA TB. Petugas medis Puskesmas Lingsar melayani pasien penderita TB Paru di tenda khusus.Meski tak semasif Malaria, penyakit TB Paru juga perlu diatensi penyebarannya.


LOMBOK BARAT, KATAKNEWS.com  - Kondisi warga terdampak gempa yang hingga kini tinggal di tenda pengungsian rawan terjangkit penyakit pasca gempa.

Bukan hanya Malaria yang sudah ditetapkan KLB di Lombok Barat, sejumlah penyakit lain juga mengancam, termasuk penyakit menular TB.

Di wilayah Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, misalnya, sejumlah pengungsi korban gempa terdeteksi menderita TB. Jika tidak ditangani, penyakit yang menyerang paru-paru melalui saluran pernapasan ini akan rentan menular ke pengungsi lainnya.

Programer Pencegahan Penyakit Puskesmas Lingsar, Sukarno mengatakan, saat ini tercatat 14 pasien TB paru di wilayah Puskesmas Lingsar yang tersebar di delapan Desa di Kecamatan Lingsar.

13 pasien diantaranya sudah terjangkit TB sebelum bencana melanda, dan satu pasien dinyatakan positif TB begitu gempa melanda.

Untuk mengantisipasi penularan TB, papar dia, sebaiknya bantuan yang hendak disalurkan adalah yang bermanfaat bagi pelayanan kesehatan bagi para pengungsi.

Sukarno menyarankan bantuan diberikan dalam bentuk tenda dan matras untuk digunakan para pasien TBC yang ada di wilayah kerja Puskesmas Lingsar.

"Kalau dia tinggal satu tenda berpotensi menyebarkan melalui pernafasan, makanya saya inisiatif kalau bisa kirimin tenda biar bisa isolasi pasien," kata Sukarno.

Menurut dia, Ikatan Alumni SMKN 26 Pembangunan Jakarta sudah mengirimkan 20 tenda beserta matras yang digunakan untuk masing-masing pasien TB di Lingsar.

Enam tenda yang tersisa sebagai stok untuk berjaga-jaga manakala ada penambahan pasien yang terjangkit penyakit serupa.

Sukarno menjelaskan, penyebaran wabah TBC memang tidak seagresif wabah malaria, tapi tetap harus dilakukan antisipasi.

"Masing-masing pasien satu tenda, dilarang digunakan keluarganya yang lain, ini tindakan protektif, karena menyebarnya melalui percikan dahak apalagi kalau tinggal satu tenda dalam jangka waktu lama, kemungkinan tersebar," katanya.  K18