Bandara ZAM Cara Menghormati Kepahlawanan Ulama

Advertisement

Bandara ZAM Cara Menghormati Kepahlawanan Ulama

Redaksi KATAKNEWS
Jumat, 14 September 2018

KATAKNEWS/Kolase Istimewa

POLEMIK NAMA BIL. Lalu Andi Sumantri dan Sudirman Harianto.


MATARAM - Polemik dan kontroversi perubahan nama Bandara Internasional Lombok (BIL) menjadi ZAM Airport sangat  kontraproduktif jika terjadi pembiaran yang  berlarut - larut tanpa titik temu.

Hal ini dinilai juga akan merugikan citra baik masyarakat Gumi Pair Lombok yang terkesan tidak kompak dan bersatu.

Padahal sebagai pulau seribu Masjid, masyarakat harusnya bangga salah satu tokoh  pahlawan nasionalnya diabadikan namanya dalam prasasti Bandara Internasional ZAM.

"Konfrontasi wacana dan aksi pro-kontra,  jika tidak ada penyelesaian secara holistik dan kultural akan merugikan semua pihak yang bersengketa. Stigma lama bahwa masyarakat Lombok sulit bersatu dan mudah dipecah belah semakin kuat pembenarannya," kata Lalu Andi Sumantri, salah seorang tokoh Lombok Tengah dari Desa Penujak, Jumat (14/9), di Mataram.

Mamiq Andi mengaku prihatin dan tidak habis pikir mengapa urusan penggantian nama bandara itu diributkan secara terbuka.

Padahal dengan perubahan nama tersebut,  secara  religius dan kultural ada penghormatan kepada  ketokohan TGH Zainuddin Abdul  Majid sekaligus wujud bhakti warga Gumi Pair  menghormati peran kepahlawanan dan perjuangan TGH Zainuddin Abdul Madjid.

"Sebagai Umara tidak ada yang salah dalam pengabadian nama TGH  Zainuddin Abdul Madjid sebagai nama bandara internasional di pulau Lombok," ungkapnya.

Mamiq Andi menambahkan, dirinya merasa kuatir jika polemik ini tidak ditangani secara bijaksana oleh para stakeholder yang terlibat.

Segresi sosial ini akan menjadi pintu masuk timbulnya konflik horizontal yang lebih masiv.

"Untuk itu, Pemerintah harus segera turun tangan menenangkan situasi meregangnya sosial kemasyarakatan yang sedang menyimpan bara api ini," katanya.

Perlu Moderasi Ekskalasi Konflik

Sementara itu tokoh Pemuda Milineal lintas Ummat, Sudirman Harianto, melihat kecendrungan meluasnya ekskalasi konflik pro kontra soal isu bandara diduga atau ditengarai faktor X  dibalik isu ini.

Hal ini terlihat dari tampilnya sejumlah tokoh elit yang tidak bebas kepentingan dalam menggalang euphoria psikologi massa dengan jargon-jargon perlawanan.

"Segera melakukan moderasi ekskalasi konflik penting dilakukan agar tidak menjadi bola liar yang tidak bisa dikontrol," tukas dia, sembari mengatakan perluasan konflik isu bandara ini terlokalisir di seputaran kalangan tokoh dan elit yang saling berseberangan sikap dan pendapat .

"Sementara itu posisi tawar rakyat diduga hanya dijadikan landasan legitimasi. Massa Rakyat sebagian besar  diorganisir secara instan, mereka bergerak  bukan atas *kesadaran indegenous* dalam memahami peta masalahnya," paparnya.

Menurutnya,  dalam konflik ini yang bertempur wacana hanya sebatas elit politik.

Proses penyelesaian atau mediasi konfliknya lebih mudah terlokalisir karena tanpa melibatkan kekuatan rakyat dalam arti sesungguhnya.

"Model penyelesaian sangkep mencari titik temu diantara para elit penting dikedepankan secara adil dan transparan untuk mengurai permasalahan dari semua aspek,"pungkas dia. K24