Dikes Gelar Sosialisasi Hitung Nafas untuk Tekan Kasus Pneumonia

Advertisement

Dikes Gelar Sosialisasi Hitung Nafas untuk Tekan Kasus Pneumonia

KATAKNEWS.com
Minggu, 15 Juli 2018


TEKAN ANGKA PNEUMONIA.  Kepala Dikes Lobar H. Rachman Sahnan Putra bersama Dr. Indra Kasari dari Kementerian Kesehatan RI dan Anggota DPR RI Hj. Hermalena, serta narasumber lainnya, dalam sosialisasi Gerakan Masyarakat Hitung Nafas Balita Batuk Dalam Deteksi Dini Pneumonia, Sabtu (14/7) di Aula Balai Diklat Pertanian Narmada, Lombok Barat.(KATAKNEWS/Foto: Humas Lombok Barat/Andy) 



LOMBOK BARAT, KATAKNEWS.com - Dinas Kesehatan (Dikes) Kabupaten Lombok Barat (Lobar) menggelar Sosialisasi Gerakan Masyarakat Hitung Nafas Balita Batuk Dalam Deteksi Dini Pneumonia, Sabtu (14/7) di Aula Balai Diklat Pertanian Narmada.

Hal ini dilakukan sebagai upaya Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Menular Langsung (P2PML), terutama untuk menekan angka kasus pneumonia di Lombok Barat.

Kegiatan sosialisasi dibuka oleh Kepala Dikes Lobar H. Rachman Sahnan Putra dan diisi oleh Dr. Indra Kasari dari Kementerian Kesehatan RI dan Hj. Hermalena dari Anggota DPR RI sebagai narasumber.

Dalam sambutan pembukanya, Kepala Dikes Lobar H. Rachman Sahnan Putra menjelaskan, ada empat faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat mulai dari faktor keturunan, faktor pelayanan kesehatan, faktor perilaku dan faktor lingkungan.

Dari empat faktor tersebut, faktor perilaku dan faktor lingkungan memiliki konstribusi yang besar di dalam mempengaruhi status kesehatan masyarakat.

"Lombok Barat termasuk kabupaten yang kasus pneumonia sangat tinggi dan bahkan pertama dari 10 penyakit yang ada di Lombok Barat. Tahun 2017 dari target 80 persen yang harus kita temukan, ketemu angka 66 ribu lebih 112 persen," katanya.

Menurutnya, kasus pneumonia ini adalah kasus yang harus menjadi perhatian secara khusus sehingga persoalan-persoalan yang menyangkut pneumonia ini bisa ditekan di Kabupaten Lombok Barat.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, pneumonia menjadi penyebab kematian kedua pada bayi dan balita setelah diare yaitu 23,8 persen.

Rachman berharap agar seluruh kalangan mulai dari tenaga kesehatan, kader kesehatan dan masyarakat memiliki peran yang besar untuk menekan kasus-kasus pneumonia di Kabupaten Lombok Barat.

"Saya kira itu terjadi juga di semua daerah di Indonesia bahwa pneumonia ini adalah sebuah permasalahan kasus penyakit yang harus menjadi perhatian secara khusus supaya bisa di tekan sedemikian rupa," tegasnya.

Sementara itu, dr. Indra Kasari dari Kementerian Kesehatan RI mengatakan, pneumonia merupakan salah satu penyakit ISPA berat yang menimbulkan kematian.

Infeksi akut yang menyerang salah satu bagian dari saluran napas mulai dari hidung. ISPA ini disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri sehingga ispa yang mengenai jaringan paru-paru dapat menjadi pneumonia.

"Gerakan hitung nafas dalam deteksi dini pneumonia normalnya frekuensi bernapas selama 1 menit, tidak boleh melebihi 60 kali pada anak berusia kurang dari 2 bulan. Sedangkan pada anak usia 2 bulan hingga usia kurang dari 12 bulan, maka frekuensi bernapasnya adalah 50 kali. Frekuensi itu menurun menjadi 40 kali pada anak usia 1-5 tahun,"ujarnya.

Anggota Komisi IX DPR RI, Hj. Hermalena mengatakan, kegiatan sosialisasi dan edukasi harus terus diberikan kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran terutama para orang tua akan bahaya pneumonia.

"Sekaligus agar masyarakat mengetahui bahwa pneumonia bisa dicegah dan disembuhkan. Pneumonia atau mudahnya disebut sebagai radang jaringan paru akibat infeksi kuman pada balita. Penyakit ini masih masalah besar dan harus kita atasi," tukasnya. K24/Andy




Editor : Bara Elank