Sengketa Lahan Poltekpar Dan Kisah Pabrik Gula Yang Gagal

Advertisement

Sengketa Lahan Poltekpar Dan Kisah Pabrik Gula Yang Gagal

Redaksi KATAKNEWS
Rabu, 06 Desember 2017

Lahan pembangunan Poltekpar Lombok.
MATARAM, KATAKNEWS.com - Pengadilan Tinggi Mataram sudah memutuskan lahan seluas 41,5 hektare di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, yang 20 hektare di dalamya menjadi lokasi pembangunan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Lombok, bukan milik Pemprov NTB tetapi milik Suryo, seorang pengusaha hasil bumi.

Ihwal Suryo bisa memiliki tanah seluas itu di Lombok Tengah, tak lepas dari kisah tentang rencana investasi pabrik gula terbesar di Lombok, yang gagal dibangun pada tahun 1962 silam.

"Tanah seluas 41,5 hektare itu dulunya merupakan milik John Van Leeuwen, yang berniat berinvestasi membangun pabrik gula di sana sekitar tahun 1962," kata Kurniadi SH, salah seorang anggota tim kuasa hukum Suryo, dari kantor Law Office Law Office Ainuddin SH MH & Partner, Rabu (6/12/2017).

Baca Juga : Lahan Poltekpar Terancam Diambil-alih

Menurut Kurniadi, berdasarkan cerita kliennya, John yang merupakan pria berdarah Belanda dan sudah menjadi Warga Negara Indonesia (WNI), saat itu memiliki bisnis pabrik gula di Jawa Timur dan hendak mengembangkan usahanya dengan mendirikan pabrik gula serupa di Lombok.

Untuk keperluan lahan pembangunan pabrik, saat itu John membeli tanah di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah dari masyarakat setempat.

"Bukti pipil dan surat jual beli, semuanya lengkap," kata Kurniadi.

Namun, niat mendirikan pabrik gula di Lombok Tengah itu gagal. Sebab, mesin pabrik yang diangkut menggunakan kapal laut dari Surabaya, Jawa Timur, tidak bisa sampai ke lokasi. Pelabuhan Ampenan, sebagai satu-satunya pelabuhan laut di Lombok saat itu, tidak mampu menampung kapal pengangkut mesin pabrik, untuk bersandar.

John kemudian kembali memfokuskan usahanya di Jawa Timur. Beberapa tahun berjalan, usaha pabrik gula itu diwariskan ke anaknya, Charles Petrus Van Leeuwen yang juga menjadi WNI dengan nama Adji Pramono.

"Selama pabrik gula di Jawa Timur itu beroperasi, John memiliki karyawan kepercayaan bernama Sujono, yang juga memiliki hubungan perkawanan dan hubungan emosional sangat baik dengan Charles. Pak Sujono ini merupakan ayah kandung klien kami, pak Suryo," kata Kurniadi.

Atas hubungan perkawanan yang sangat erat itu, pada tahun 1993, Charles atau Adji Pramono kemudian menghibahkan tanah waris miliknya di Lombok kepada Sujono. Akta hibah atas tanah itu bernomor 12 tertanggal 15 Januari 1993, dibuat di kantor Notaris/PPAT R Juliman Reksohadi SH di Surabaya, Jawa Timur.

"Tanah seluas 41,5 hektare itu kemudian diwariskan oleh pak Sujono kepada anaknya, pak Suryo," kata Kurniadi.

Belakangan, Suryo mengajukan gugatan terhadap Pemprov NTB lantaran diatas lahan miliknya itu dibangun Poltekpar Lombok. K4

Editor: Bara Elank