Ratusan Keluarga Terdampak Banjir Rob Di Lombok Timur

Advertisement

Ratusan Keluarga Terdampak Banjir Rob Di Lombok Timur

Redaksi KATAKNEWS
Senin, 04 Desember 2017

MATARAM, KATAKNEWS.com - Sekitar 400 keluarga di Kecamatan Keruak dan Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, NTB, terdampak banjir rob yang melanda sebagian kawasan di pesisir selatan Lombok Timur, Minggu malam (3/12).

Data BPBD NTB menyebutkan, banjir rob akibat naiknya permukaan laut mulai terjadi sejak pukul 19.30 Wita dan memuncak hingga Senin dinihari (4/12). Banjir berdampak pada sejumlah desa terutama desa yang terletak di pesisir pantai di dua Kecamatan itu.

Desa yang terdampak antara lain Desa Ekas Buana, Desa Batu Nampar Selatan di Kecamatan Jerowaru, serta Desa ketapang Raya, dan Desa Tanjung luar di Kecamatan Keruak.

"Banjir Rob ini merupakan siklus tahunan berupa air laut pasang di daerah pesisir pantai. Minggu malam air laut naik sampai memasuki rumah-rumah warga yang berada di dekat laut dengan ketinggian mencapai satu meter, berdampak pada 400-an Keluarga di dua Kecamatan Keruak dan Jerowaru," kata Kepala BPBD NTB Muhammad Rum, Senin (4/12) di Mataram.

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Menurut Rum, Senin pagi kondisi banjir sudah mulai surut. Namun sejumlah warga yang terdampak di beberapa Desa itu, masih mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Ia mengatakan, saat kejadian Minggu malam, BPBD NTB dan BPBD Lombok Timur langsung membantu melakukan evakuasi langsung warga terdampak. Evakuasi ada yang dilakukan mandiri oleh warga, maupun evakuasi tim gabungan BPBD, SAR, Tagana, dan PMI.

"Kebutuhan mendesak yang diperlukan warga terdampak banjir rob ialah logistik dan tenda pengungsi. Ini yang kami distribusikan, sebab diperkirakan banjir rob masih akan terjadi dalam kurun waktu tiga hari ke depan," kata Rum.

Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika BMKG NTB,  Agus Riyanto menjelaskan, banjir Rob di Lombok Timur kemungkinan besar terjadi sebagai dampak dari munculnya bulan purnama supermoon yang terjadi pada Minggu malam (3/12).

"Dampak yang bisa saja terjadi akibat supermoon seperti terjadi pasang surut atau pasang naik air laut akibat gravitasi bulan," kata Agus.

Selain itu, banjir rob bisa juga diakibatkan lantaran gelombang pasang tinggi, kemudian dari arah laut ditambah gelombang hasil badai Cempaka dan Dahlia yang bisa merambat sampai ke pantai dalam bentuk gelombang sorong.

Menurutnya, banjir Rob biasanya melanda daerah yang permukaannya lebih rendah daripada permukaan air laut dan mempunyai warna yang cenderung lebih jernih daripada air yang pada banjir-banjir biasanya.

Agus merinci karakteristik atau ciri-ciri banjir rob antara lain, terjadi pada saat air laut sedang pasang, warna air tidak terlalu keruh, tidak melulu terjadi pada saat musim penghujan tiba, dan biasanya terjadi pada daerah yang mempunyai wilayah dataran lebih rendah daripada wilayah lautan.

Sejumlah faktor yang menyebabkan terjadinya banjir Rob, mulai dari pemanasan global, pemanfaatan air tanah secara berlebihan, pembabatan hutan mangrove atau hutan bakau, keadaan topografi suatu wilayah, adanya fenomena penurunan muka tanah, perubahan penggunaan tanah rawa, situ, sawah, penyempitan bantaran sungai, membuang sampah di sungai, dan sistem drainase yang tidak terawat.

"Sedangkan purnama terjadi ketika orbit bulan dan matahari sebaris dengan bumi. Dampak dari bulan purnama yakni air laut akan menjadi pasang. Banjir rob bisa diperparah saat bulan berada pada posisi terdekat dengan bumi, dikenal dengan perigee," kata Agus.

Agus menekankan, kondisi ini perlu menjadi kewaspadaan kesiapsiagaan untuk adaptasi lingkungan, terutama kawasan yang berada di pesisir pantai, seperti di Selatan Pulau Lombok.

"Banjir Rob umumnya melanda daerah pantai saja. Perlu diwaspadai esok hari juga fenomena purnama masih berlanjut," kata Agus. K18

Editor: Bara Elank