Pornografi Dan Salah Pergaulan Penyebab Utama Kids Zaman Now Jadi Pelaku Kekerasan Seksual

Advertisement

Pornografi Dan Salah Pergaulan Penyebab Utama Kids Zaman Now Jadi Pelaku Kekerasan Seksual

Redaksi KATAKNEWS
Jumat, 01 Desember 2017

ilustrasi kekerasan seksual anak courtesy:merdeka.com
JAKARTA, KATAKNEWS.com - Zaman makin gila. Kekerasan seksual saat ini bukan hanya menjadi aksi yang bisa dilancarkan orang dewasa saja. Anak-anak, bahkan sudah banyak yang menjadi pelaku kekerasan seksual yang menyasar korban sesama anak-anak.

Sebuah penelitian yang dilakukan Kementerian Sosial RI dan beberapa pihak tahun 2017 ini menunjukan, pengaruh peredaran konten pornografi dan juga salah bergaul, menjadi dua faktor paling dominan yang menyebabkan anak-anak terjerumus menjadi pelaku kejahatan seksual.

"Faktor determinan yang mempengaruhi anak melakukan kekerasan seksual kepada anak adalah pornografi (43%) dan pengaruh teman (33%)," kata Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, Jumat (1/12/2017) dalam konferensi pers Hasil Penelitian tentang Kekerasan Seksual Anak Terhadap Anak, di Jakarta.

Selain dua faktor itu, pengaruh narkoba atau obat terlarang lainnya menempati urutan ketiga dengan persentase 11%, pengaruh historis pernah menjadi korban atau trauma masa kecil 10%), serta pengaruh keluarga atau broken home sebesar 10%).

Penelitian Kekerasan Seksual Anak Terhadap Anak itu dilakukan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial Yogyakarta (B2P3KS) bekerja sama dengan End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking Of Children For Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia dan dukungan Kemensos RI.

Penelitian dilakukan di lima Kota antara lain, Jakarta Timur, Magelang (Jawa Tengah), Yogyakarta, Mataram (NTB) dan Makassar (Sulawesi Selatan).

Penelitian dengan metode wawancara mendalam dilakukan terhadap 49 anak yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak, orangtua, guru, kepala panti, Pekerja Sosial, dan stakeholder.

"Saya ke Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) yang ada di bawah koordinasi Kemensos di sejumlah daerah di Indonesia. Secara terpisah saya bertemu korban dan pelaku. Hasilnya lebih dari 50 persen kasus kekerasan seksual anak dilakukan oleh anak. Maka saya minta agar dilakukan penelitian. Kenapa mereka sampai ketagihan bahkan sampai melakukan kekerasan dan pemaksaan," kata Khofifah.

Mensos Khofifah memaparkan, hasil penelitian juga menunjukkan pelaku kekerasan seluruhnya berjenis kelamin laki-laki dengan rata-rata usia 16 tahun.

Data penelitian menyebutkan, kekerasan seksual dilakukan oleh pelaku melalui paksaan (67%), kekerasan yang dilakukan berupa sentuhan/rabaan organ sensitif (30%), dan kekerasan seksual hingga hubungan badan (26%).

Mayoritas pelaku masih tinggal dengan orang tua (61,22%). Tempat terjadinya kekerasan seksual diantaranya di rumah teman (30,56%) dan di rumah korban (19,44%). Mayoritas pelaku dan korban telah saling kenal (87%).

Korban kekerasan seksual anak terungkap bahwa rentang usia mereka adalah 5–17 tahun. Karakteristik korban sebanyak 35,44% bersifat pendiam, cengeng dan pemalu. Sebanyak 24,05% bersifat hiperaktif dan  bandel dan sebanyak 13,92% senang berpakaian minim.

"Sementara dari sisi karakteristik sosial ekonomi keluarga baik pelaku maupun korban menunjukkan bahwa 55% merupakan keluarga yang didampingi dua orang tua  dan 45% merupakan keluarga cerai/meninggal," kata Khofifah.

Mensos Khofifah mengatakan, untuk menekan angka kekerasan seksual yang melibatkan anak sebagai pelaku dan korban, Kemensos merekomendasikan pembatasan penggunaan internet pada anak-anak. Hal ini berkaitan dengan penyebab kekerasan seksual anak terhadap anak melalui pornografi yang diakses dari internet dan gawai menjadi penyebab tertinggi.

"Pembatasan ini bisa disesuaikan dengan kesepakatan antara anak dengan orangtua dan dengan pengawalan orang tua. Misalnya boleh mengakses internet namun dibatasi hanya untuk tayangan anak, boleh pegang gawai pada jam-jam tertentu saja seperti setelah mereka belajar atau setelah berhasil melakukan pekerjaan rumah dan tugas-tugas sekolah," katanya.
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Upaya lainnya adalah membatasi aplikasi yang boleh diunduh dengan memanfatkan fitur pengunci aplikasi android yang ada dalam setiap gawai.

"Intinya semua pihak harus turun tangan dengan penuh kesadaran untuk memberikan perlindungan terhadap anak. Agar mereka tak menjadi pelaku maupun korban," kata Mensos Khofifah.

Ia mengatakan, pemerintah juga telah melakukan berbagai ikhtiar dari regulasi dan eksekusinya, dari sisi regulasi sudah ada revisi UU Perlindungan Anak sampai 2 kali. Yakni UU Nomor 23 Tahun 2002 menjadi UU nomor 35 tahun 2014.

"Berbagai layanan sudah kita lakukan tetapi dinamika masalah sosial terkait kekerasan terhadap anak sangat variatif sehingga kita harus maksimalkan langkah preventif dan penanganan yang lebih sistemik apalagi jika  pelakunya anak, agar dapat ditangani  semaksimal mungkin," katanya.

Ia menambahkan Kementerian Sosial telah berihhtiar antara lain melalui Panti  Handayani di Jakarta yang menerima rujukan dari pemerintah dan masyarakat serta  memberikan layanan konseling serta trauma healing berstandar kepada anak. Sementara di Panti  Antasena Magelang, Paramita di kota Mataram dan Todupoli di  Makassar, Kemensos berkoordinasi dengan sekolah untuk kelangsungan pendidikan anak dan memperkenalkan pendidikan kesehatan reproduksi  sejak dini.
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
"Di Lembaga Perlindungan Anak Yogyakarta memberikan pendampingan secara sosial, psikologis dan hukum kepada korban dan pelaku kekerasan seksual anak termasuk pendampingan keluarga dari kedua belah pihak," terang Khofifah.

Namun demikian, layanan ini tidak cukup jika tidak diperluas kemitraan layanan bersama masyarakat. Diperlukan peran masyarakat, pemerintah, pemerintah  daerah, dan keluarga inti untuk bersama-sama melindungi anak-anak.

"Dari hasil penelitian, 55 persen pelaku berasal dari keluarga yang utuh ayah dan ibunya. Maka kedua orang tua  harus berperan maksimal  dalam upaya memberikan  perlindungan. Misalnya menanamkan pemahaman kepada  anak bahwa mereka punya bagian intim yang tidak boleh disentuh oleh orang lain bahkan orang yang mereka kenal sekalipun. Jika hal ini terjadi, anak harus berteriak atau melaporkan yang dialami kepada orangtua," papar Mensos Khofifah. K18

Editor: Bara Elank