Batuknya Gunung Agung Bernilai Enam Miliar Rupiah, Butuh Pengawasan Ekstra Ketat

Advertisement

Batuknya Gunung Agung Bernilai Enam Miliar Rupiah, Butuh Pengawasan Ekstra Ketat

Redaksi KATAKNEWS
Senin, 04 Desember 2017

Rapat Strategi Dampak Gunung Agung.
MATARAM, KATAKNEWS.com - Erupsi Gunung Agung di Bali belum mencapai letusan yang maksimal, namun kerisauan banyak pihak di industri pariwisata Bali dan Lombok, NTB, lebih dulu mencapai klimaks.

Sebagai pelipur gundah, Kementerian Pariwisata langsung mengalokasikan dana Rp6 Miliar. Perlu kontrol dan pengawasan yang ketat untuk dana sebesar itu, agar bisa tersalurkan tepat sasaran.

“Kita siapkan anggaran Rp6 miliar dari Kemenpar untuk dana emergency (darurat) khusus untuk erupsi Gunung Agung. Dana ini tidak dibagi, ke Bali sekian atau ke NTB sekian. Tapi kita buatkan program, agar wisatawan itu bisa mendapatkan informasi yang jelas dan keadaan pariwisata di Bali dan NTB bisa normal,” kata Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata RI, I Gde Pitana, usai rapat koordinasi strategi penanggulangan dampak erupsi Gunung Agung, Minggu (3/12) di Hotel Lombok Astoria, Mataram.
bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Gde Pitana mengatakan, pengalokasian dana emergency itu dilakukan karena Bali dan NTB merupakan daerah prioritas untuk mendatangkan banyak wisatawan. Selain itu, dampak erupsi Gunung Agung yang menyebabkan arus penerbangan ke dua Provinsi itu juga sudah mulai berpengaruh pada turunnya jumlah kunjungan wisata di sana.

Pitana berharap semua pihak yang bergerak dalam bidang pariwisata bisa bekerjasama untuk memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan yang masih ada di dua daerah ini.

“Dalam keadaan semacam ini apa yang paling dibutuhkan? Yang paling dibutuhkan adalah informasi yang jelas. Oleh sebab itu kami sudah membangun komunikasi dan bekerjasama dengan Google Indonesia agar wisatawan bisa mendapatkan informasi yang jelas terkait dengan erupsi Gunung Agung,” katanya.

Ia mengatakan bahwa kerjasama itu membutuhkan biaya. Namun itu diperlukan agar wisatawan yang melakukan pencarian informasi di salah satu mesin pencari terbesar di dunia itu merasa tenang karena keadaan di Bali dan Lombok saat ini sudah membaik.

“Yang tidak boleh dikunjungi itu kan pada radius 12 kilometer dari pusat erupsi. Jadi lebih dari itu masih dalam kondisi aman, ini yang harus kita beritahu kepada wisatawan. Sehingga mereka tidak khawatir untuk berkunjung,” katanya.

Menurut Pitana, Kemenpar juga tengah berupaya untuk mengambil langkah-langkah strategis untuk menanggulangi dampak erupsi tersebut, baik di Bali maupun di Lombok, NTB. Termasuk terus mempromosikan Bali dan Lombok sebagai destinasi andalan yang dimiliki NTB. Sehingga wisatawan tidak perlu merasa khawatir jika ingin berkunjung.

Rapat koordinasi yang digagas Dinas Pariwisata NTB, Minggu (3/12) dihadiri seluruh stakeholders kepariwisataan di NTB, untuk mengevaluasi dampak erupsi Gunung Agung terhadap pariwisata NTB selama sepekan.

Kepala Dinas Pariwisata NTB, Lalu Mohammad Faozal mengatakan, sejak erupsi Gunung Agung di Bali, banyak hal yang terjadi pada industri pariwisata di NTB. Mulai dari pembatalan kunjungan hingga wisatawan yang merasa khawatir akan dampak erupsi Gunung Agung di Bali.

"Setidaknya ada 3 ribu lebih kamar hotel yang dibatalkan oleh calon wisatawan. Demikian pula yang terjadi pada pelaku pariwisata lain seperti biro perjalanan hingga pramuwisata yang mendapatkan ratusan pembatalan kunjungan. Keadaan ini memang tidak pernah terduga sebelumnya. Namun saya sangat berterima kasihkepada industri dan asosiasi yang sudah bekerjasama untuk menanggulangi persoalan ini,” katanya.

Menurut Faozal,  Ia mengatakan erupsi Gunung Agung yang berdampak pada penerbangan sangat memengaruhi jumlah kunjungan wisatawan ke NTB. Tahun ini NTB telah menargetkan untuk mendatangkan setidaknya 3,5 juta wisatawan.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB Lalu Abdul Hadi Faishal mengatakan, dampak erupsi Gunung Agung membuat banyak paket kunjungan ke Lombok NTB dibatalkan. Akhirnya tingkat hunian hotel di Lombok saat menurun berkisar 30-45 persen. Padahal dalam masa peak season saat ini, jika normal bisa mencapai 65-85 persen.

Banyaknya pembatalan di berbagai hotel ini juga membuat manajemen hotel memberikan berbagai diskon kepada wisatawan hingga 50 persen. Ini diharapkan dapat membantu untuk mengurangi beban wisatawan yang melakukan perpanjangan karena penerbangan di Lombok International Ariport yang dibuka tutup selama sepekan ini.

“Hotel sudah berikan diskon bagi wisatawan yang melakukan perpanjangan karena tidak bisa kembali akibat dari penutupan bandara,” katanya. K22

Editor: Bara Elank